Thursday, December 27, 2012

Candi Gedong Songo

Bandungan 2012

Setelah mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa dan GMAK selanjutnya kami menuju arah Bandungan, tempat dimana Candi Gedong Songo berada. Untuk menuju kompleks candi ini sebelum Pasar Ambarawa belok kiri. Jalanan lancar, lumayan berkelok namun tikungan dan tanjakannya tidak  terlalu ekstrim. 
Candi peninggalan Hindu ini ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804 di wilayah Bandungan, di bangun pada zaman Wangsa Syailendra tahun 927 masehi. Kompleks 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini menyajikan pemandangan yang luar biasa indah bagi saya.

Harga tiket untuk masuk Rp 6.000. Tidak jauh dari gerbang beberapa orang mendekati untuk menawarkan jasa kuda. Mereka menakut-nakuti kalau jalan kaki mengelilingi seluruh candi itu sangat sangat jauh. Tarif kuda untuk paket seluruh candi untuk wisatawan domestik Rp 50.000. Berbekal PD karena pernah berhasil di Bukit Kasih Tomohon kami memutuskan untuk berjalan kaki saja, selain untuk ngirit juga sich :D
Gedong Songo berarti sembilan bangunan. Meskipun namanya Gedong Songo, tapi saat ini bangunan candi yang ada disini berjumlah lima saja, mulai dari Candi I hingga Candi V. Kenapa tidak dirubah namanya jadi Gedong Limo ya :p

Komplek Candi Gedong Songo merupakan komplek candi yang berderet mulai dari bawah hingga ke atas pucak bukit. Candi pertama yang akan ditemui tentu saja adalah Candi I yang terletak pada dataran paling rendah. Candinya berciri khas Hindu dengan ukuran yang kecil dan berjumlah hanya satu buah. Dari Candi I bisa langsung menuju ke Candi II. Perjalanan dari Candi I ke Candi II ini lumayan berat karena jaraknya lumayan jauh dan jalanannya tidak beraspal rata. Kemudian jalannya juga menanjak cukup tinggi.

Sebaiknya mempersiapkan air minum untuk perjalanan ini, karena lumayan ngos-ngosan. Tetapi bisa juga membeli minuman dan makanan di tenda-tenda yang ada di sepanjang jalan menuju ke Candi II. Dalam perjalanan ke Candi II akan melewati Vanaprastha Gedong 9 Park dengan membayar biaya tambahan sebesar Rp 5.000 fasilitas taman ini bisa dinikmati. Di taman ini terdapat fasilitas bermain anak seperti flying fox serta pendopo-pendopo yang bisa dgunakan untuk bersantai.

Ada dua jalur yang bisa dilewati untuk sampai ke Candi II. Jalur pertama ini adalah jalur yang saya lewati, jalur dengan petunjuk jalan yang bertuliskan jalur pengunjung. Rutenya lebih panjang dan lebih menanjak. Jalur kedua merupakan jalur kuda yang rutenya lebih pendek dan landai. Untuk melewati jalur kuda ini tidak harus menyewa kuda, bisa tetap berjalan kaki dengan resiko harus mengalah jika berpapasan dengan kuda dan bertemu serta mencium bau kotoran kuda yang semerbak. Titik pertemuan antara jalur pengunjung dan jalur kuda tepat sebelum sampai di Candi II. 
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke Candi II (termasuk photo-photo). Bentuk dan ukuran Candi II mirip dengan Candi I, hanya pada bagian depannya terdapat reruntuhan batu-batu.

Jarak antara Candi II dan Candi III cukup berdekatan dan jalur pengunjung dari Candi II ke Candi III menjadi satu dengan jalur kuda. Nah dari Candi III ke Candi IV jaraknya lumayan jauh dan akan melewati pemandian air panas. Kalau berminat bisa mandi air panas dengan biaya sekitar Rp 5.000. Jalan menuju air panas ini agak landai, tetapi bukannya lebih mudah tetapi jadi lebih sulit dari menanjak menurut saya, karena harus ngerem, kalau tidak bisa bablas. 

Di Candi IV di sekelilingnya banyak sekali reruntuhan candi baik di sisi samping maupun depan. Sudah cukup melihat Candi IV segera lanjut ke Candi V yang merupakan candi terakhir yang ada di Gedong Songo. Letaknya di atas bukit paling tinggi di antara candi yang lain.
Selesai dari Kompleks Candi ini, rute selanjutnya adalah Taman Djamoe. Sebelumnya mampir dulu untuk makan siang dan mencoba tahu serasi yang terkenal di Bandungan itu. Keistimewaannya tahu serasi buatan Bandungan ini katanya tidak mengunakan pengawet sama sekali dan teksturnya lebih lembut dari tahu putih biasa. Kalau rasanya sich tidak beda jauh. Satu bungkus tahu serasi yang isinya delapan potong dihargai sekitar Rp 10.000. Menikmati tahu serasi goreng, penjual biasanya menyediakan sambel kecap yang dicampur dengan bawang goreng dan irisan cabe.

Thursday, November 22, 2012

Wisata Museum, Ambarawa

Ambarawa 2012
Museum Kereta Api Ambarawa dulunya adalah stasiun kereta api (Stasiun Willem I) yang sekarang dialihfungsikan menjadi museum yang berlokasi di Ambarawa (sekitar 2 jam dari Semarang) yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada eranya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.
Kita bisa menaiki kereta api kuno yang masih menggunakan ketel uap tersebut. Uniknya jalur kereta yang digunakan adalah jalur kereta bergerigi. Jalur kereta bergerigi ini digunakan untuk mendaki jalur kereta yang meninggi menuhi Stasiun Kereta Bedobo yang berjarak sekitar 9 km. Fungsi kereta-kereta ini pada awalnya untuk mempermudah angkutan pasukan Belanda ke Semarang, ada 22 lokomotif dalam kondisi baik di halaman utara dan barat, sebagian pernah berperan mengangkut tentara Indonesia. 
Memasuki halaman parkir, terlihat beberapa lokomotif tua dan lokomotif kecil yang dipajang di halaman samping bangunan, diletakkan di tempat terbuka, menyebar di bawah rimbunnya pepohonan.
Saat berkunjung di Juli suasana tidak begitu ramai karena museumnya sedang direnovasi, tetapi untuk bagian luarnya masih terbuka. Yang direnovasi adalah ruang pamernya, yaitu tempat menyimpan beberapa koleksi museum seperti pesawat telepon kuno, mesin ketik, mesin hitung, mesin telegram,stempel karcis, hingga beragam topi masinis. Selain itu, terdapat foto-foto tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia (hasil ngintip :D). Di sisi kiri dan kanan bangunan berjajar kursi kayu tua yang nyaman untuk menikmati segarnya angin, bisa untuk photo-photo juga^^
Tidak jauh dari Museum Kereta Api ada Museum Palagan Ambarawa  untuk memperingati peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Ambarawa, setelah bertempur selama 4 hari. Dimana pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang. Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.
 http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Kereta_Api_Ambarawa

Gua Maria Kerep

Ambarawa 2012
Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) berada di Jalan Tentara Pelajar, Kelurahan Panjang, Ambarawa. Jaraknya sekitar 500 m dari Terminal Ambarawa. Karena jauh dari jalan raya, maka daerah ini cukup tenang. Dari tempat ini dapat terlihat pemandangan Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, dan Danau Rawa Pening. Gua Maria Kerep memiliki fasilitas bagi para peziarah, antara lain Jalan Salib, Tempat Doa, Gereja, dan sebuah taman yang cukup luas.
Gua Maria Kerep dibangun pada tahun 1954 sebagai wujud kerinduan umat Paroki Santo Yusuf Ambarawa untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan perantara Bunda Maria. Pembangunannya dipelopori oleh para Bruder Jesuit dan dan didukung oleh Romo J.Reijnders SJ, pastor paroki Santo Yusuf Ambarawa. Semula para biarawan itu tinggal di Yogyakarta, hijrah ke Muntilan pada 1948 dan kemudian menetap di Kerep, Ambarawa. Pada tahun 1960 bruderan pindah ke Salatiga. Dengan bantuan siswa SGB, mereka mengumpulkan batu demi batu hingga akhirnya berdiri Gua Maria Kerep. Bangunan itu diresmikan oleh Mgr Albertus Soegijapranata SJ pada 15 Agustus 1954.
 
Pada tahun 1981, Gua Maria Kerep direnovasi berkat dukungan keluarga Bapak Bedjo Ludiro dari Juwana, yang baru saja berziarah ke Gua Lourdes, Prancis. Keluarga ini bersyukur kepada Tuhan atas terkabulnya doa mereka bagi kesembuhan sang istri dari penyakit lumpuh. Gua ini dibangun mirip Gua Maria Lourdes.
Di dalam area parkir juga dibangun kios-kios pelayanan devosionalia untuk memindahkan kios-kios serupa yang sebelumnya menempati halaman Gua Maria Kerep Ambarawa. Selain itu dibangun pula kios-kios untuk PKL untuk para penjual makanan dan berbagai dagangan yang sebelumnya berderet di sepanjang jalan. Bagi yang ingin bermalam, di seberang areal Gua Maria ini terdapat hotel.
Melalui Jembatan yang menghubungkan kawasan peziarahan GMKA kita dapat menuju Taman Doa, dan dengan menyusuri jalan di Taman Doa dapat kita renungkan peristiwa - peristiwa hidup Yesus : sungai Yordan tempat Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Kana di Galilea tempat Yesus mengubah air menjadi anggur, padang rumput luas tempat Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan, danau Galilea tempat Yesus Memanggil para murid-Nya untuk menjadi penjala manusia, taman makam tempat Yesus. Di dalam kompleks ini juga terdapat beberapa makam, diantaranya makam pendiri Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).
Taman ditata dengan indah, berbagai landscape ditata dalam komposisi dan proporsi yang pas. Sungai kecil yang meliuk, gazebo, perpaduan tanaman palma dengan pakis. Bunga-bunga aneka warna, keasrian rumput yang dipangkas rapi menyerupai lapangan golf mini. Latar belakang sungai, bebukitan maupun pandangan lepas ke arah bawah mengarah ke Rawa Pening menyuguhkan kecantikan alami.
http://guamariakerep.com

Wednesday, October 17, 2012

Wisata Sehat Taman Djamoe

Semarang 2012
Ibu Meneer (Lau Ping Nio) merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Saat suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia, Ibu Meneer mencoba meramu jamu Jawa yang diajarkan orang tuanya dan suaminya sembuh. Sejak saat itu, Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu Jawa. Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar.
Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer. Selain mendirikan pabrik Ny Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dan berdirilah cabang toko Nyonya Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta. Ibu Meneer meninggal dunia tahun 1978, operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni kelima cucu Nyonya Meneer. Kelima bersaudara ini kurang serasi dan perebutan kekuasaan menjadi sengketa berkelanjutan. Akhirnya saudara-saudara tersebut menjatuhkan pilihan untuk berpisah dan menjual bagian mereka kepada Charles Ong Saerang.
Impian Ibu Meneer akan adanya sebuah taman herbal tempat pembudidayaan tanaman jamu diwujudkan oleh Charles Saerang yang mengubah lahan seluas 3 hektar yang berlokasi di Jl. Raya Semarang-Bawen Km. 28, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, menjadi sebuah kebun herbal dengan menumbuhkan berbagai macam koleksi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan baku produksi jamu. Kemudian taman yang awalnya hanya dijadikan sebagai taman koleksi pribadi diubah menjadi terbuka untuk umum dengan tiket masuk Rp 10.000 di weekend. Taman inilah yang akhirnya diberi nama Taman Djamoe Indonesia. 
Lokasinya jika dari arah kota Semarang maka di sebelah kiri jalan setelah kompleks Giri Sonta dan sebelum pabrik Jamu Sidomuncul, si Pak supir sempat nyasar masuk ke pabrik Jamu Sido Muncul baru putar arah lagi, katanya Taman Djamoe ini baru, sebelumnya dia kesana belum ada x_X
Ditempat ini selain taman luas ada museum dengan interior tradisional yang terbagi dalam 2 bagian, yaitu barang koleksi pribadi Ibu Meneer dan replika peracikan serta pembuatan jamu secara tradisional. Begitu masuk dapat melihat lukisan Ibu Meneer, koleksi alat-alat yang digunakan untuk membuat jamu pada masa lalu dan tempat jamu dari kuningan. Selain itu juga bisa melihat replika tentang peracikan jamu secara tradisional. Setelah melewati bagian museum ada tempat penjualan beberapa jamu dan es krim tapi sayangnya tutup waktu itu.
Fasilitasnya lumayan lengkapnya seperti Spa Srikaton (dengan perjanjian sebelumnya), Taman Djamoe Resto, Taman Djamoe Gift Shop dan Meneer Shop, Taman Djamoe Herbaclinic, Taman Djamoe Herbal Collection and Market, Amphitheater, Green House, Laboratorium, Jogging and Biking Track, dan ada Helipad juga. Saat kami sepi, hanya kami pengunjungnya. Karena panas terik kami akhirnya sewa sepeda Rp 5.000/sepeda dengan membayar ke satpam yang ada disana (uangnya masuk ke kantong celana si satpam :|)
Koleksi tanamannya lumayan banyak dan sebagian besar tanaman memiliki nama-nama "ajaib" yang baru sekali itu saya tahu. Norak waktu ngeliat pohon kayu putih, ternyata batang pohonnya benar-benar putih, kirain selama ini hanya namanya saja "kayu putih" :p
 
*********
http://www.tamandjamoeindonesia.com

Sunday, September 30, 2012

Si Nekad The Naked Traveler

Sep 2012

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan menghadiri acara peluncuran buku “The Naked Traveler 4” oleh Trinity Traveler. Event ini juga bisa dikatakan sebagai event terakhir Trinity tahun ini, tentu saya tidak saya lewatkan donk ya. Jadi mulai Oktober 2012 nanti, Trinity akan untuk jalan-jalan keliling dunia selama satu tahun dengan menggunakan paspor RI yang katanya susah dapat visa di negara-negara tertentu itu.

Naked Traveler adalah satu buku tentang travelling yang beda daripada umumnya panduan perjalanan. Ketika bicara tentang travelling, dalam buku ini tuh nggak hanya yang enak-enak aja yang diceritakan. Nggak hanya yang bagus-bagus yang ditemukan oleh Trinity, nggak semua pantai itu pasirnya putih atau nggak semua pemandangan itu bagus. Bahkan pernah Trinity ikut tour & travel yang jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk diminta berfoto dengan pohon pisang!

Dalam seri buku Naked Traveler, Trinity menceritakan pengalamannya dengan gaya bahasa yang asyik, ringan, lucu, dan bukan dalam bentuk panduan how to... Lebih ke pengalaman apa yang dialaminya selama travelling. Tentu beberapa orang mengira bahwa yang paling dibutuhkan jika ingin melakukan perjalanan adalah mempersiapkan uang sebanyak-banyaknya, namun menurut Trinity yang paling dibutuhkan oleh seorang traveller adalah mental, karena dalam perjalanan akan banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan prediksi kita nantinya, dan kita harus mampu beradaptasi dengan semua itu. Nah hal-hal yang unpredictable ini yang banyak diceritakan.

Selain mengisahkan pengalamannya berjalan-jalan ke luar negeri, Trinity juga banyak menceritakan kisah-kisah perjalanannya di Indonesia. Sebagai pecinta laut, Trinity menegaskan betapa Laut Indonesia tak kalah indah dibandingkan negara-negara lain yang pernah didatanginya.

Acara diakhiri dengan book signing dan foto bareng. Seperti dapat dilihat di foto di atas, banyak orang yang menghadiri acara ini, yang mana otomatis antrian tanda tangan dan foto nya panjang sekali, dan saya malas ikutan antri, jadinya langsung jalan cari makan. Saya malah minta tanda tangannya Rini Raharjanti yang juga datang untuk mensupport acaranya Trinity ini. Selesai makan saya balik lagi melewati Void Lantai 3, dan ketemu dengan Trinity yang sedang siap-siap balik, langsung deh minta foto secara sudah sepi :D

Saturday, September 1, 2012

Kuliner Pasar Semawis

Semarang 2012
Semawis (Semarang Untuk Pariwisata) merupakan salah satu pusat jajanan di daerah Pecinan Semarang. Berupa jalan gang yang di kanan kirinya terdapat stand-stand penjual makanan dan minuman. Pasar ini muncul dari ide perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata).
Pasar Semawis sekarang hanya buka pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu mulai pukul 18.00-23.00 di Gang WarungSetiap akhir pekan saat Pasar Semawis digelar, beberapa jalan di Pecinan ditutup salah satu ujungnya, seperti jalan Gang Besen, Gang Tengah, Gambiran, Gang Belakang dan Gang Baru. Jalan - jalan yang ditutup ini digunakan untuk parkir kendaraan pengunjung. Dari daerah Simpang Lima sekitar 20 menit sampai ke tempat ini, melewati Pasar Johar dan tidak jauh dari Pasar Semawis bisa ditemui Gang Lombok yang terkenal dengan Lumpia-nya.

Makanan yang ditawarkan tidak hanya terbatas pada kuliner khas Semarang tetapi juga makanan yang mewakili komunitas Arab, India dan tentunya masakan oriental Pecinan. Ada nasi campur, bubur, sate, empek-empek, bakmi, es puter, es conglik, es marem, zuppa soup, nasi pecel, nasi kari, soto, aneka seafood dan banyak banyak banyak lagi.
Saat kami tiba jam 18.00, tempat ini masih sepi, baru beberapa stand yang buka, datangnya kepagian nich. Enaknya datang beramai-ramai, acara santap bisa lebih asyik dengan tiap orang memesan hidangan yang berbeda-beda dan saling icip. Begitu banyak jenis hidangan yang ditawarkan, makan sendiri pasti kekenyangan d. Harganya juga tidak terlalu mahal.

Pernah ketemu nasi campur ini di Jakarta?^^
Es Marem
Es Marem ini merupakan kombinasi dari kolak, air jeruk, dan es teler. Isinya ada kelapa muda, kolang kaling, buah atep, nangka, cincau hitam, selasih, es serut, dan satu lagi yang membuat es marem ini beda dari yang lain yaitu irisan tape singkong yang diselai yang dipotong dadu sehingga tape tidak lembek, terasa kenyal. Kuahnya ada dua pilihan, kuah santan atau kuah jeruk, tergantung lebih selera yang mana. Yang saya coba yang kuah jeruk, seger banget. Harganya Rp 15.000,-/porsi

***
Harus diperhatikan label halal dari setiap standnya

Friday, August 24, 2012

Gereja Katedral Randusari

Semarang 2012
Minggu pagi itu sedianya kami akan mengikuti Misa pagi jam 07.00 atau 08.45, tetapi karena saya baru bisa tidur subuh berakhirlah rencana itu. Sekitar jam 10.00 kami baru keluar dari hotel di daerah Simpang Lima menuju ke Jalan Pandanaran dimana Kateral Semarang berada. Berjalan kaki dari Ibis Simpang Lima memakan waktu kurang lebih 30 menit (jalan santai) :D
Gereja Katedral Semarang (Gereja SPM Ratu Rosari Suci) terletak di kawasan Tugu Muda, tepatnya di Jalan dr. Soetomo, dekat  (seberang) dengan Lawang Sewu. Kompleks Katedral terdiri dari gedung pertemuan, balai pengobatan dan sekolah (SD Bernadus dan SMP Dominico Savio). Katedral Agung Semarang menjadi gereja induk di wilayah Keuskupan Jawa Tengah. 
Bangunan katedral termasuk dalam kategori bangunan bersejarah yang dilindungi Pemerintah Kota Semarang. Arsitektur bangunan berorientasi pada arsitektur Barat. Kompleks bangunan didesain berbentuk segi empat dengan tiga pintu masuk, masing-masing berada di sisi Barat, Selatan dan Utara. Sebagian dinding dilapisi batu alam, konstruksi atap berbentuk limasan mejemuk, yang ditutup dengan genteng. Dirancang oleh J.Th.Van Oyen, bekerja sama dengan konstruktor Kleiverde.
Bersebelahan dengan gereja ada bangungan baru yang merupakan kediaman dan kantor Keuskupan Agung Semarang. Uskup Agung Semarang yang pertama adalah Mgr. A. Sugiyapranata. 

Sekitar jam 10.30 kami sampai dan kompleks gereja sudah sepi, hanya ada tukang leker yang berjualan di depan. Rasa dan harga kue lekernya sama saja seperti yang di Jakarta. Mestinya lebih murah dari Jakarta ya :p

Puncak Darajat

Garut 2012

Puncak Darajat / Darajat Pass tempat wisata yang baru dibangun di tahun 2010 dengan tiket masuk Rp 15.000/orang. Air kolam yang terdapat di Darajat Pass berasal dari mata air Kawah Darajat sehingga selain panas juga mengandung belerang yang katanya baik untuk kesehatan kulit. Cukup untuk menghangatkan badan di tengah cuaca Kota Garut yang dingin. 

Jalan Raya Samarang menuju Darajat dibangun sebagai hasil kerja sama antara PT Chevron, Pertamina, PT Indonesia Power dan Pemerintah Garut. Jalan Raya Garut-Samarang-Pasirwangi-Darajat bisa ditempuh dalam satu jam saja. Melalui Jalan Samarang kita akan melewati Kampung Sampireun dan Rumah Makan Mulih ka Desa, tetapi kami tidak mampir karena kedua tempat tersebut lumayan mahal :D 

Sepanjang jalan kita disuguhi oleh petak-petak pertanian yang ditanami berbagai macam sayuran  kol, brokoli, cabe, tomat, dan tembakau. Setiap lereng perbukitan memberi warna yang beragam, sayangnya tidak melihat kebun bunga, pasti akan lebih indah dengan melihat bunga yang berwarna warni itu.
Kepulan asap putih terlihat menguasai rongga-rongga udara di salah satu sudut puncak Darajat. Panas bumi yang melimpah ini dimanfaatkan perusahaan seperti PT Chevron dengan sistem geothermalnya.
Banyak fasilitas yang disediakan Puncak Darajat, seperti kolam pemandian air panas, dengan waterboom dan ember tumpahnya. Bisa juga mencoba wisata berkuda, flaying fox, shaking bridge atau ATV track. Flaying Puncak Darajat ini katanya merupakan flaying fox terpanjang di Garut. Tempat outbound yang luas membuat banyak pilihan berwisata.

Karena saat kami datang masih dalam libur sekolah, arena bermain air seperti seluncuran dan ember tumbah sangat padat. Uniknya yang berdiri di bawah ember tumpah sebagian besar adalah ibu-ibu. 
Melihat lautan manusia itu, kami menjadi malas untuk ikut nyebur ke kolamnya, akhirnya cuma memandang gunung, makan pop mie dan camilan serta photo-photo. Tidak sampai sejam sudah keluar dari tempat ini :|
Dalam perjalanan kembali ke Kota Garut, kami singgah di Bukit Alamanda yang terletak di kaki Gunung Guntur. Bukit Alamanda Resort & Resto menyediakan enam suite bungalow yang didesain dengan nuansa tradisional tetapi tidak meniadakan berbagai fasilitas modern. Untuk rasa makanannya biasa saja :)

Monday, July 2, 2012

Pantai Santolo

Garut 2010

Setelah dari Pantai Sayang Heulang, perjalanan lanjut ke Pantai Santolo yang berada pada 88 km sebelah selatan Kota Garut, di Kecamatan Cikelet. Pantai ini ternyata lebih indah dari Sayang Heulang (IMO). Pasirnya halus dan putih jika dibandingkan dengan pantai Sayang Heulang yang pasirnya kecoklatan dan banyak pecahan kerang. 

Sebelum memasuki gerbang Pantai Santolo terlihat tempat peluncuran roket yang merupakan bagian dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional  (LAPAN), jadi jangan kaget saat main di pantai tiba-tiba melihat roket terbang ya.
Kawasan Pantai Santolo sepertinya merupakan pantai berkumpulnya nelayan tradisional. Juga merupakan lokasi pelabuhan kapal ikan atau perahu nelayan yang ada di Pameungpeuk. Masyarakat sekitarnya menggantungkan diri sebagai nelayan, petani dan dari wisata dadakan seperti saat libur lebaran ini.
Tersedia juga sewaan perahu yang melayani wisatawan untuk menikmati deburan ombak selatan yang cukup menantang. Fasilitas yang dibutuhkan wisatawan cukup tersedia seperti losmen dan penginapan kelas menengah dengan harga per malam yang terjangkau, kios-kios cinderamata dan warung-warung sederhana beratap daun kelapa atau terpal. Wilayah pantainya belum terjamah oleh pembangunan wisata yang berlebihan.
Kita makan siang disini, banyak rumah makan lesehan, yang menjual ikan bakar atau aneka seafood lainnya. Kami tergiur oleh lobsternya yang besar-besar, akhirnya pesan 1 porsi walaupun mahal. Hidangan makanan lautnya segar dengan sajian sederhana tapi memanjakan lidah. 

Di rumah makan ini ada anak-anak yang sedang main game bola dengan serunya. Salah satu anak ada yang berteriak "congkel bujur blegug sia". Bahasa yang cukup kasar menurut teman saya yang orang Garut x_x
Di pantai ini juga kita dapat menyeberangi muara dengan perahu (ongkos perahu 2 ribu/orang). Di sisi muara ini, pantainya didominasi dengan karang-karang (pantai karang), sehingga apabila sedang surut, bisa bermain ke tengah, melewati karang-karang dan tentu saja dapat menyalurkan bakat narsis dengan berfoto ria :D
some pics taken by SN & Riman