Saturday, May 19, 2012

5 Jam Mati Gaya

Menutup tahun 2009 kami berenam mengunjungi Bali dan Lombok selama seminggu. Awalnya hanya berencana mengunjungi Bali, tetapi karena sudah di Bali kenapa tidak sekalian menyebrang ke Lombok.

Untuk mencapai Lombok dari Bali dengan transportasi darat hanya memungkinkan dengan menggunakan kapal feri. Ada beberapa pelabuhan laut yang memberangkatkan kapal ke Lombok. Pelabuhan penumpang yang utama adalah Padang Bai yang melayani pelayanan feri secara reguler menuju Pelabuhan Lembar di Lombok dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Tiket sekali menyebrang pada tahun 2009 Rp 31.000,-/penumpang dan feri ini beroperasi 24 jam.

Kami mengambil jadwal keberangkatan jam 01.40, mau menginap di feri rencananya, jadi pagi harinya begitu sampai di Lombok bisa langsung jalan. Diperlukan waktu sekitar 2 jam-an dengan mobil dari Denpasar ke Pelabuhan Padang Bai.

Kapal ferinya cukup besar dan mampu mengangkut ratusan penumpang dan puluhan kendaraan bermotor sekaligus. Ketika sampai di atas, di dek penumpang tersedia kursi-kursi dan semacam ruangan luas terbuka untuk tidur gabung dengan penumpang-penumpang lain, kondisinya kotor dan bau. 

Ada ABK yang mendekati kami dan menawarkan kamarnya untuk istirahat seharga Rp 50.000,- Ruangannya kecil, terlalu sempit untuk kami berenam (hanya tersisa 1 kamar), agak berdebu, kurang terawat lah. Sungguh 5 jam yang terasa lama sekali tanpa melakukan apa-apa. Mau tidur ga bisa, mau ngobrol sudah tidak ada tenaga, mau keluar tidak ada pemandangan bagus selain gelap malam.
Sekitar jam 7 akhirnya feri sampai juga di Pelabuhan Lembar. Pagi itu di pelabuhan terlihat sepi, hanya ada beberapa truck besar yang sedang menanti penyeberangan selanjutnya, tujuan kami selanjutnya adalah menuju Kuta, yang berada di Lombok Selatan.  Kuta Lombok kondisinya terbalik 180 derajat dari Kuta Bali, suasananya lebih sepi, sangat cocok untuk bersantai dan menikmati kesunyian alam. Butuh waktu sekitar 1 jam berkendara dari pelabuhan Lembar ke Mataram dan kurang lebih 30 menit lagi jika diteruskan ke Senggigi kemudian Kuta.

Saturday, May 12, 2012

Short Gateway to Cirebon : Day 1

May 2012

Kemarin saya baru saja menjelajahi Cirebon untuk pertama kalinya selama dua hari. Jarak Jakarta Cirebon juga tidak terlalu jauh, sehingga Cirebon bisa dijadikan alternatif wisata selain Bandung. Dari pengalaman selama di sana, Cirebon memang cukup menyenangkan untuk dijadikan destinasi liburan apalagi perjalanan ini dengan travel partner yang menyenangkan juga ="> :x 

Meskipun Cirebon tidak terlalu besar kotanya tapi banyak yang bisa dilakukan seperti wisata sejarah, wisata kuliner sampai ke wisata belanja batik. Kami menginap di Santika Hotel dan mereka menyediakan antar jemput dari dan ke stasiun. Saat kami tiba, driver dari Santika sudah siap menunggu kami di depan stasiun. Perjalanan dari Stasiun ke hotel sekitar 1/2 jam tanpa macet.

Sebelum berangkat saya sudah googling transportasi umum untuk menjelajah kota Cirebon ini. Untuk sewa mobil rasanya sayang karena kami hanya berdua dan tidak banyak tempat yang akan didatangi, alternatif lain naik ojek, ini juga bukan pilihan karena Cirebon terkenal panas, dan kalau saya dibawa kabur abang ojeknya gimana..hehe..Jadi pilihan jatuh ke jalan kaki dan naik angkot. Yups naik angkot...beruntung sekali saya menemukan ada yang share rute-rute angkot Cirebon di Kaskus Regional Cirebon.

Setelah check in dan istirahat sebentar kami segera keluar untuk mencari makan siang. Kami berjalan ke arah stasiun untuk mencari warung makan tapi tidak ketemu, ada sich ketemu satu warung, tapi makanan yang tersisa soto jeroan..huuuh...engga bisa kemakan itu mah sama saya. Jadinya kami naik angkot ke Empal Gentong Amarta di daerah Plered. Tarif angkotnya Rp 2.000,-/ orang. Setelah selesai makan kami menyewa becak untuk mengelilingi Kampung Batik Trusmi, si Bapak becak minta harga PP Rp 20.000,- yang menurut kami tidak terlalu mahal jadi tidak ditawar lagi.
Pilih2 batik di Kampung Batik Trusmi
Untuk makan malam kami menuju Nasi Jamblang Mang Dul di perempatan Grage dengan berjalan kaki. Lumayan jauh dari hotel tapi tidak terasa karena kami sambil mengobrol dan foto-foto sekalian olah raga. Tapi sepertinya kami kemalaman. Saat kami datang tempatnya sudah ramai, pada berdesak-desakan memesan makanannya, ada banyak menu sebenarnya tapi saat sampai giliran kami sudah hampir habis lauk-lauknya, jadi tidak selera lagi untuk makan di sini.

Tidak berhasil makan di Nasi Jamblang Mang Dul kami mencoba peruntungan di Nasi Jamblang Bu Nur. Nasi jamblang sebenarnya adalah nasi biasa, hanya nasinya dialasi daun pohon jati dengan banyak pilihan lauk seperti tahu goreng, tempe goreng, telur dadar, paru-paru kering, bergedel, otak goreng, sate usus, ikan tongkol, semur gading sapi, dan aneka pepes. 

Untuk rasa makannya tidak istimewa menurut saya, hanya nasi yang dialasi daun jati itu yang harum sekali. Sang partner cukup menikmati karena sambalnya makyus katanya (saya tidak coba sambalnya). Eh tapi dia kalau sama makanan review-nya hanya enak dan enak sekali. Harga makanannya tidak terlalu mahal, jadi yoweslah dibawa asik aja pencarian jauh si nasi jamblang ini.

Setelahnya kami kembali ke hotel dan ngobrol-ngobrol di lobby hotel sampai agak malam. Nah saya tuh duduk di sofa yang depannya ada kaca besar. Selama mengobrol itu ntah kenapa saya sering reflek memandang itu kaca (bukan pengen ngaca ya). Satu hal lagi ini adalah trip pertama saya di mana saya tidur di kamar hotel sendirian dan sepanjang malam saya tidak bisa tidur pulas karena mendengar bunyi macam-macam. Karena kamar saya di pojok dan di bawahnya area taman dan kolam renang, ya saya pikir ada yang masih wara wiri di bawah jadi berisik. Setelah kembali ke Jakarta saya cerita ke Jeng Vira, dan ternyata katanya bahwa Santika Cirebon itu memang spooky berdasarkan pengalamannya beberapa menginap di sana saat business trip. Oh my.....untung ga sampe diliatin :((

Dinding2 di Keraton ini dipenuhi dengan keramik menyerupai piring hias..

Monday, May 7, 2012

Pantai Pasir Merica

 Lombok 2009

Pantai Aan terletak kurang lebih 30 km dari Bandara Internasional Lombok. Untuk menuju pantai ini harus melewati Pantai Kuta Lombok. Jangan heran jika di sepanjang perjalanan akan sering melihat anjing-anjing berkeliaran, tapi tenang binatang ini tidak akan menggigit atau membuat takut, anjing-anjing ini sangat disayang oleh masyarakat sana.
Jalanan berliku dan menanjak mewarnai perjalanan. Bila sudah bertemu batu-batu karang besar, bukit yang tinggi, serta tidak terdapat rumah penduduk, berarti telah tiba di Pantai Tanjung Aan. Pantai Tanjung Aan diselimuti pasir-pasir yang bersih. Warna air lautnya juga bersih.
Yang unik adalah keberadaan pasir merica di kedalaman kurang lebih dua meter pasir Pantai Tanjung Aan. Pasir merica yang berada di pantai ini tidak terkena air laut sehingga kita harus menggalinya dengan tangan untuk menemukan pasir berbutir ini. Masyarakat Lombok Tengah meyakini pasir ini bisa menyembuhkan beberapa penyakit. 
Jika tidak mau repot-repot menggalinya, kita bisa membelinya dari penduduk setempat dengan harga sekitar Rp 5000. Hanya saja kadang pengunjung bisa terganggu oleh beberapa penduduk yang menjual pasir-pasir merica dan souvenir-souvenir lainnya dengan cara agak memaksa.

Pasir merica ini hanya ada di Tanjung Aan, meskipun di wilayah Lombok Tengah ada banyak pantai. Selain itu, yang unik lainnya adalah bila melihat dari kejauhan warna air lautnya ada dua, yaitu hijau dan biru gelap. Warna hijau menandakan  airnya tidak dalam.
Di pantai ini juga terdapat sebuah bukit kecil yang dapat didaki. Di balik bukit kecil tersebut kita tidak akan lagi menemukan pasir dengan bentuk butiran merica lagi melainkan pasir putih yang sangat halus.
Suasana yang tenang menjadi pilihan untuk datang ke tempat ini. Di sekitar lokasi ini sama sekali tidak ada tempat penginapan yang berdiri, hanya hamparan padang rumput tempat warga melepas hewan ternaknya yang terlihat di jalan menuju Pantai Tanjung Aan. 
Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi ini dapat memilih tempat penginapan terjangkau yang tersedia di sekitar Pantai Kuta Lombok. Saat itu kami menginap Tastura Beach Resort. Maunya sich di Novotel, tapi mahal  :D