Tuesday, February 28, 2017

Huta Siallagan Desa Ambarita

May 2016

Desa Ambarita merupakan sebuah kampung tempat kompleks situs batu Sialagan di mana terdapat beberapa rumah adat Batak yang masih ditinggali oleh keturunan raja-raja Batak sampai saat ini.



Jadi di desa ini selain rumah-rumah adat terdapat seperangkat batu dan meja sebagai tempat persidangan yang dipakai oleh Raja Sidabutar, Raja Siallagan, dan Raja Sidauruk untuk menyidang warganya yang melakukan kesalahan.  Hukum mati (pancung) merupakan hukuman yang ditetapkan bagi seseorang yang berbuat kejahatan berat seperti pembunuh atau pemerkosa. 

Konon setelah meninggal, badan terdakwa yang sudah terpenggal ini lalu dibedah untuk diambil jantung dan hatinya, lalu dimakan Sang Raja untuk menambah kekuatan dan kesaktiannya. Pada saat masuknya agama Kristen ke tanah Batak, penerapan hukuman pancung tidak lagi dilaksanakan termasuk penggunaan ilmu-ilmu gaib ditinggalkan.


Untuk menambah daya tarik wisata di kompleks ini juga terdapat patung Sigale-Gale. Pengunjung diperkenankan untuk berfoto bersama patung ini dengan menggunakan ulos dengan biaya tertentu.

si gale gale

Thursday, February 16, 2017

Pantai Parbaba Samosir

May 2016
Parbaba Beach

Melanjutkan perjalanan di Pulau Samosir, kami berkunjung ke Pantai Parbaba yang berada di Kecamatan Pangururan, sekitar satu jam perjalanan dari Tomok. Pantai dengan pasir putih ini unik karena bukan berapa di tepi laut tetapi di tepi danau. 



Jika berencana pergi ke Samosir, pantai ini bisa menjadi alternatif tempat menikmati Danau Toba.
Banana Boat in Parbaba Beach


Saturday, February 11, 2017

On The Way to Samosir Island

May 2016
Okeh lanjut lagi di cerita yang masih bersambung belum tamat-tamat ini. Setelah dari Parapat untuk menuju Pulau Samosir ada dua cara, yaitu melalui jalan darat dan menggunakan kapal feri. Kami tentu saja memilih menggunakan kapal feri, secara ini adalah sarana transportasi yang umum ditemput untuk menuju Pulau Samosir dari Kota Parapat. 


Pada waktu itu, pelabuhan Ajibata sangat ramai dengan truk-truk besar dan wisatawan yang menggunakan mobil pribadi. Dari pelabuhan Ajibata perjalanan hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai Desa Tomok. Panas dan banyaknya anak-anak sekolah yang teriak-teriak serta kursi yang kotor membuat perjalanan terasa sangat lama :(

Harga tiket di Pelabuhan Ajibata ini lebih mahal dibandingkan di Pelabuhan Tigaraja karena memang banyak digunakan oleh wisatawan untuk menyeberang ke Tomok. Kapal feri yang kami tumpangi terdiri dari ruang terbuka dua lantai. Di lantai atas bisa menikmati pemandangan Danau Toba lebih leluasa, ada kursi plastik, tetapi harus merasakan terik matahari. Sementara itu di lantai bawah lebih tertutup dan ruang gerak terbatas.

Pada perjalanan pulang kami memilih tetap berada di dalam mobil yang suhunya lebih adem :D




Saturday, February 4, 2017

Meriam Puntung di Istana Maimun

May 2016

Akhirnya bersambung lagi ini edisi jalan-jalan ke SuMut. Ya walau perginya kapan, sampe sekarang belum selesai juga ceritanya. Begitulah, ga tamat-tamat diselak kesibukan dan kemalasan :D
Istana Maimun
Istana Maimun adalah salah satu peninggalan sejarah masa Kerajaan Deli merupakan salah satu ikon Kota Medan. Istana ini terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Sampai saat ini istana masih dihuni oleh para ahli waris Kesultanan Deli.

Meriam Puntung

Pada sisi kanan istana kita bisa melihat meriam bernama Meriam Puntung atau Meriam Buntung, berada dalam sebuah bangunan kecil. Menurut legenda, meriam ini adalah jelmaan dari saudara laki-laki seorang puteri yang cantik jelita yang berubah menjadi meriam untuk mempertahankan istana dari serbuan Raja Aceh yang ditolak cintanya oleh sang kakak. Kisah lengkap mengenai legenda Meriam Puntung ini dapat dibaca pada satu buah prasasti di dekat pintu masuk istana.

Di dalam Istana juga terdapat souvenir-souvenir yang dijajakan. Juga ada jasa penyewaan pakaian khas Melayu. Tiket masuk cukup murah, tetapi kondisi Istana khususnya bagian yang dibuka untuk umum agak memprihatinkan (buat saya). Kondisi lantai dan kursi-kursi berdebu, lampu remang-remang yang membuat suasana sumpek, toko-toko souvenir di dalam Istana yang mengganggu pemandangan. Harga tiket yang Rp 5.000 itu mungkin tidak mencukupi biaya perawatan istana (atau biaya hidup ahli waris kesultanan).