Wednesday, October 17, 2012

Wisata Sehat Taman Djamoe

Semarang 2012
Ibu Meneer (Lau Ping Nio) merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Saat suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia, Ibu Meneer mencoba meramu jamu Jawa yang diajarkan orang tuanya dan suaminya sembuh. Sejak saat itu, Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu Jawa. Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar.
Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer. Selain mendirikan pabrik Ny Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dan berdirilah cabang toko Nyonya Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta. Ibu Meneer meninggal dunia tahun 1978, operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni kelima cucu Nyonya Meneer. Kelima bersaudara ini kurang serasi dan perebutan kekuasaan menjadi sengketa berkelanjutan. Akhirnya saudara-saudara tersebut menjatuhkan pilihan untuk berpisah dan menjual bagian mereka kepada Charles Ong Saerang.
Impian Ibu Meneer akan adanya sebuah taman herbal tempat pembudidayaan tanaman jamu diwujudkan oleh Charles Saerang yang mengubah lahan seluas 3 hektar yang berlokasi di Jl. Raya Semarang-Bawen Km. 28, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, menjadi sebuah kebun herbal dengan menumbuhkan berbagai macam koleksi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan baku produksi jamu. Kemudian taman yang awalnya hanya dijadikan sebagai taman koleksi pribadi diubah menjadi terbuka untuk umum dengan tiket masuk Rp 10.000 di weekend. Taman inilah yang akhirnya diberi nama Taman Djamoe Indonesia. 
Lokasinya jika dari arah kota Semarang maka di sebelah kiri jalan setelah kompleks Giri Sonta dan sebelum pabrik Jamu Sidomuncul, si Pak supir sempat nyasar masuk ke pabrik Jamu Sido Muncul baru putar arah lagi, katanya Taman Djamoe ini baru, sebelumnya dia kesana belum ada x_X
Ditempat ini selain taman luas ada museum dengan interior tradisional yang terbagi dalam 2 bagian, yaitu barang koleksi pribadi Ibu Meneer dan replika peracikan serta pembuatan jamu secara tradisional. Begitu masuk dapat melihat lukisan Ibu Meneer, koleksi alat-alat yang digunakan untuk membuat jamu pada masa lalu dan tempat jamu dari kuningan. Selain itu juga bisa melihat replika tentang peracikan jamu secara tradisional. Setelah melewati bagian museum ada tempat penjualan beberapa jamu dan es krim tapi sayangnya tutup waktu itu.
Fasilitasnya lumayan lengkapnya seperti Spa Srikaton (dengan perjanjian sebelumnya), Taman Djamoe Resto, Taman Djamoe Gift Shop dan Meneer Shop, Taman Djamoe Herbaclinic, Taman Djamoe Herbal Collection and Market, Amphitheater, Green House, Laboratorium, Jogging and Biking Track, dan ada Helipad juga. Saat kami sepi, hanya kami pengunjungnya. Karena panas terik kami akhirnya sewa sepeda Rp 5.000/sepeda dengan membayar ke satpam yang ada disana (uangnya masuk ke kantong celana si satpam :|)
Koleksi tanamannya lumayan banyak dan sebagian besar tanaman memiliki nama-nama "ajaib" yang baru sekali itu saya tahu. Norak waktu ngeliat pohon kayu putih, ternyata batang pohonnya benar-benar putih, kirain selama ini hanya namanya saja "kayu putih" :p
 
*********
http://www.tamandjamoeindonesia.com