Friday, August 24, 2012

Gereja Katedral Randusari

Semarang 2012
Minggu pagi itu sedianya kami akan mengikuti Misa pagi jam 07.00 atau 08.45, tetapi karena saya baru bisa tidur subuh berakhirlah rencana itu. Sekitar jam 10.00 kami baru keluar dari hotel di daerah Simpang Lima menuju ke Jalan Pandanaran dimana Kateral Semarang berada. Berjalan kaki dari Ibis Simpang Lima memakan waktu kurang lebih 30 menit (jalan santai) :D
Gereja Katedral Semarang (Gereja SPM Ratu Rosari Suci) terletak di kawasan Tugu Muda, tepatnya di Jalan dr. Soetomo, dekat  (seberang) dengan Lawang Sewu. Kompleks Katedral terdiri dari gedung pertemuan, balai pengobatan dan sekolah (SD Bernadus dan SMP Dominico Savio). Katedral Agung Semarang menjadi gereja induk di wilayah Keuskupan Jawa Tengah. 
Bangunan katedral termasuk dalam kategori bangunan bersejarah yang dilindungi Pemerintah Kota Semarang. Arsitektur bangunan berorientasi pada arsitektur Barat. Kompleks bangunan didesain berbentuk segi empat dengan tiga pintu masuk, masing-masing berada di sisi Barat, Selatan dan Utara. Sebagian dinding dilapisi batu alam, konstruksi atap berbentuk limasan mejemuk, yang ditutup dengan genteng. Dirancang oleh J.Th.Van Oyen, bekerja sama dengan konstruktor Kleiverde.
Bersebelahan dengan gereja ada bangungan baru yang merupakan kediaman dan kantor Keuskupan Agung Semarang. Uskup Agung Semarang yang pertama adalah Mgr. A. Sugiyapranata. 

Sekitar jam 10.30 kami sampai dan kompleks gereja sudah sepi, hanya ada tukang leker yang berjualan di depan. Rasa dan harga kue lekernya sama saja seperti yang di Jakarta. Mestinya lebih murah dari Jakarta ya :p

Puncak Darajat

Garut 2012

Puncak Darajat / Darajat Pass tempat wisata yang baru dibangun di tahun 2010 dengan tiket masuk Rp 15.000/orang. Air kolam yang terdapat di Darajat Pass berasal dari mata air Kawah Darajat sehingga selain panas juga mengandung belerang yang katanya baik untuk kesehatan kulit. Cukup untuk menghangatkan badan di tengah cuaca Kota Garut yang dingin. 

Jalan Raya Samarang menuju Darajat dibangun sebagai hasil kerja sama antara PT Chevron, Pertamina, PT Indonesia Power dan Pemerintah Garut. Jalan Raya Garut-Samarang-Pasirwangi-Darajat bisa ditempuh dalam satu jam saja. Melalui Jalan Samarang kita akan melewati Kampung Sampireun dan Rumah Makan Mulih ka Desa, tetapi kami tidak mampir karena kedua tempat tersebut lumayan mahal :D 

Sepanjang jalan kita disuguhi oleh petak-petak pertanian yang ditanami berbagai macam sayuran  kol, brokoli, cabe, tomat, dan tembakau. Setiap lereng perbukitan memberi warna yang beragam, sayangnya tidak melihat kebun bunga, pasti akan lebih indah dengan melihat bunga yang berwarna warni itu.
Kepulan asap putih terlihat menguasai rongga-rongga udara di salah satu sudut puncak Darajat. Panas bumi yang melimpah ini dimanfaatkan perusahaan seperti PT Chevron dengan sistem geothermalnya.
Banyak fasilitas yang disediakan Puncak Darajat, seperti kolam pemandian air panas, dengan waterboom dan ember tumpahnya. Bisa juga mencoba wisata berkuda, flaying fox, shaking bridge atau ATV track. Flaying Puncak Darajat ini katanya merupakan flaying fox terpanjang di Garut. Tempat outbound yang luas membuat banyak pilihan berwisata.

Karena saat kami datang masih dalam libur sekolah, arena bermain air seperti seluncuran dan ember tumbah sangat padat. Uniknya yang berdiri di bawah ember tumpah sebagian besar adalah ibu-ibu. 
Melihat lautan manusia itu, kami menjadi malas untuk ikut nyebur ke kolamnya, akhirnya cuma memandang gunung, makan pop mie dan camilan serta photo-photo. Tidak sampai sejam sudah keluar dari tempat ini :|
Dalam perjalanan kembali ke Kota Garut, kami singgah di Bukit Alamanda yang terletak di kaki Gunung Guntur. Bukit Alamanda Resort & Resto menyediakan enam suite bungalow yang didesain dengan nuansa tradisional tetapi tidak meniadakan berbagai fasilitas modern. Untuk rasa makanannya biasa saja :)