Tuesday, June 12, 2012

Tak Seindah Kenangan Lalu

Es Krim Ragusa yang berlokasi di Jalan Veteran I No. 10 adalah cafe ice cream yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Ragusa berasal dari nama keluarga Italia.
Bangunannya bergaya khas Belanda, saat memasukinya dapat merasakan kembali ke masa lalu. Kursi-kursinya terbuat dari rotan dengan model kuno dan meja yang sederhana pula. Di bagian dinding, terlihat foto-foto hitam putih yang menggambarkan bagaimana keadaan Es Krim Ragusa dahulu dan photo-photo sudut kota Jakarta jaman dulu.
Ruangannya tidak menggunakan AC, hanya menggunakan kipas angin, mungkin atap bangunannya yang tinggi itu membantu mengurangi udara panas. Mesin kasir juga terlihat kuno dan tempat untuk menyajikan es krim pun antik. Pemiliknya sepertinya memang ingin mempertahankan nuansa tempo dulu bagi pengunjungnya.
 
Walau bangunan dan interiornya kuno, rasa dari es krimnya layak untuk dicicipi. Beberapa menu yang ada misalnya spaghetti ice cream, banana split, special mix, tutti frutti, chocolate sundae, cola float dan nougat. 

Dibuat secara handmade dan tidak ada bahan pengawet yang digunakan dalam pengolahan es krimnya, sehingga pada saat disajikan, tak lama air sudah menggenang di mangkok es krim, jadi harus buru-buru disantap sebelum mencair. Komposisi susunya pas, tidak membuat eneg.
Selain es krim, kita juga bisa memesan makanan lain seperti otak otak, sate, gado-gado, kue apeatau rujak juhi. Hanya makanan ini yang menjual beda. Jadi para pedagang-pedagang tadi berjualan di depan rumah es krim ini.  Kadang ada juga pengamen yang mampir melantunkan tembang-tembang tempo dulu.

Sewaktu kecil sering diajak kesini sampai sekitar SMP, bulan lalu tiba-tiba kepengan nyobain lagi setelah sekian lama. Dan woow begitu sampai sana penuh (karena hari Minggu?) dan pelayannya jutek banget, ga ramah sama sekali. Nanya menu diminta antri dulu di depan kasir dengan galaknya. Lagi liat-liat menu, disuruh cepat langsung pesan. Jadi bingung ini pembeli atau penjual yang adalah raja ya.

Walaupun es krimnya enak, tapi males juga kalau pelayanannya seperti itu. RAGUSA tak seindah kenangan...

Monday, June 4, 2012

Pantai Sarang Elang

Garut 2010

Pantai pertama yang dikunjungi pada liburan lebaran ini adalah pantai Sayang Heulang yang terletak di desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk yang berjarak sekiar 89 km dari Kota Garut. Jaraknya memang lumayan jauh, sekitar 3.5 jam dari Garut. Sepanjang perjalanan yang jauh itu, kita disuguhi pemandangan indah,  mulai dari perkebunan teh, bukit-bukit dan jalan yang berkelok-kelok yang diapit oleh jurang-jurang yang dalam.
Jalannya lumayan sempit, hanya bisa dilalui dua mobil atau masing-masing satu untuk lajur kanan dan kiri. Disini kendaraan susah untuk menyalip baik kendaraan roda dua ataupun mobil, jarak pandang terhalangi oleh tikungan yang dihalangi oleh bukit. Harus ekstra hati-hati jika melewati jalur ini, jangan sekali-kali nekat menyalip, karena tidak akan tahu ada apa dibalik tikungan.
Ceritanya dinamakan Sayang Heulang (bahasa Sunda dari sarang elang) karena adanya elang-elang terbang landai di lautnya. Di gerbang masuknya juga terdapat monument yang di ujung atasnya bertengger patung elang.

Karena saat itu libur lebaran pengunjungnya banyak, pasirnya kecoklatan dan agak kotor. Fasilitasnya sendiri disini menurut saya tidak begitu terawat. Pantainya terbagi 2 tipe, yang berkarang di sebelah Barat dan yang landai berpasir di Timurnya. 
Banyak tumbuhan pantai disini. Lahan yang ada di lokasi ini sepertinya cukup subur sehingga memudahkan untuk ditanami kelapa dan tumbuhan merambat. Pada bagian tepi pantai ditanami tanaman pandan laut.
Ada pula orang memancing dan anak-anak kecil mengumpulkan kerang dan keong. Kontur pantai dan ketinggian ombak aman jika mau bermain air di bibir pantai. Pantai Sayang Heulang berombak tak besar dengan ketinggian stabil.