Thursday, November 22, 2012

Wisata Museum, Ambarawa

Ambarawa 2012
Museum Kereta Api Ambarawa dulunya adalah stasiun kereta api (Stasiun Willem I) yang sekarang dialihfungsikan menjadi museum yang berlokasi di Ambarawa (sekitar 2 jam dari Semarang) yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada eranya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.
Kita bisa menaiki kereta api kuno yang masih menggunakan ketel uap tersebut. Uniknya jalur kereta yang digunakan adalah jalur kereta bergerigi. Jalur kereta bergerigi ini digunakan untuk mendaki jalur kereta yang meninggi menuhi Stasiun Kereta Bedobo yang berjarak sekitar 9 km. Fungsi kereta-kereta ini pada awalnya untuk mempermudah angkutan pasukan Belanda ke Semarang, ada 22 lokomotif dalam kondisi baik di halaman utara dan barat, sebagian pernah berperan mengangkut tentara Indonesia. 
Memasuki halaman parkir, terlihat beberapa lokomotif tua dan lokomotif kecil yang dipajang di halaman samping bangunan, diletakkan di tempat terbuka, menyebar di bawah rimbunnya pepohonan.
Saat berkunjung di Juli suasana tidak begitu ramai karena museumnya sedang direnovasi, tetapi untuk bagian luarnya masih terbuka. Yang direnovasi adalah ruang pamernya, yaitu tempat menyimpan beberapa koleksi museum seperti pesawat telepon kuno, mesin ketik, mesin hitung, mesin telegram,stempel karcis, hingga beragam topi masinis. Selain itu, terdapat foto-foto tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia (hasil ngintip :D). Di sisi kiri dan kanan bangunan berjajar kursi kayu tua yang nyaman untuk menikmati segarnya angin, bisa untuk photo-photo juga^^
Tidak jauh dari Museum Kereta Api ada Museum Palagan Ambarawa  untuk memperingati peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Ambarawa, setelah bertempur selama 4 hari. Dimana pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang. Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.
 http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Kereta_Api_Ambarawa

Gua Maria Kerep

Ambarawa 2012
Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) berada di Jalan Tentara Pelajar, Kelurahan Panjang, Ambarawa. Jaraknya sekitar 500 m dari Terminal Ambarawa. Karena jauh dari jalan raya, maka daerah ini cukup tenang. Dari tempat ini dapat terlihat pemandangan Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, dan Danau Rawa Pening. Gua Maria Kerep memiliki fasilitas bagi para peziarah, antara lain Jalan Salib, Tempat Doa, Gereja, dan sebuah taman yang cukup luas.
Gua Maria Kerep dibangun pada tahun 1954 sebagai wujud kerinduan umat Paroki Santo Yusuf Ambarawa untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan perantara Bunda Maria. Pembangunannya dipelopori oleh para Bruder Jesuit dan dan didukung oleh Romo J.Reijnders SJ, pastor paroki Santo Yusuf Ambarawa. Semula para biarawan itu tinggal di Yogyakarta, hijrah ke Muntilan pada 1948 dan kemudian menetap di Kerep, Ambarawa. Pada tahun 1960 bruderan pindah ke Salatiga. Dengan bantuan siswa SGB, mereka mengumpulkan batu demi batu hingga akhirnya berdiri Gua Maria Kerep. Bangunan itu diresmikan oleh Mgr Albertus Soegijapranata SJ pada 15 Agustus 1954.
 
Pada tahun 1981, Gua Maria Kerep direnovasi berkat dukungan keluarga Bapak Bedjo Ludiro dari Juwana, yang baru saja berziarah ke Gua Lourdes, Prancis. Keluarga ini bersyukur kepada Tuhan atas terkabulnya doa mereka bagi kesembuhan sang istri dari penyakit lumpuh. Gua ini dibangun mirip Gua Maria Lourdes.
Di dalam area parkir juga dibangun kios-kios pelayanan devosionalia untuk memindahkan kios-kios serupa yang sebelumnya menempati halaman Gua Maria Kerep Ambarawa. Selain itu dibangun pula kios-kios untuk PKL untuk para penjual makanan dan berbagai dagangan yang sebelumnya berderet di sepanjang jalan. Bagi yang ingin bermalam, di seberang areal Gua Maria ini terdapat hotel.
Melalui Jembatan yang menghubungkan kawasan peziarahan GMKA kita dapat menuju Taman Doa, dan dengan menyusuri jalan di Taman Doa dapat kita renungkan peristiwa - peristiwa hidup Yesus : sungai Yordan tempat Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Kana di Galilea tempat Yesus mengubah air menjadi anggur, padang rumput luas tempat Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan, danau Galilea tempat Yesus Memanggil para murid-Nya untuk menjadi penjala manusia, taman makam tempat Yesus. Di dalam kompleks ini juga terdapat beberapa makam, diantaranya makam pendiri Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).
Taman ditata dengan indah, berbagai landscape ditata dalam komposisi dan proporsi yang pas. Sungai kecil yang meliuk, gazebo, perpaduan tanaman palma dengan pakis. Bunga-bunga aneka warna, keasrian rumput yang dipangkas rapi menyerupai lapangan golf mini. Latar belakang sungai, bebukitan maupun pandangan lepas ke arah bawah mengarah ke Rawa Pening menyuguhkan kecantikan alami.
http://guamariakerep.com