Tuesday, June 12, 2012

6:18 PM 5

Tak Seindah Kenangan Lalu

Es Krim Ragusa yang berlokasi di Jalan Veteran I No. 10 adalah cafe ice cream yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Ragusa berasal dari nama keluarga Italia.
Bangunannya bergaya khas Belanda, saat memasukinya dapat merasakan kembali ke masa lalu. Kursi-kursinya terbuat dari rotan dengan model kuno dan meja yang sederhana pula. Di bagian dinding, terlihat foto-foto hitam putih yang menggambarkan bagaimana keadaan Es Krim Ragusa dahulu dan photo-photo sudut kota Jakarta jaman dulu.
Ruangannya tidak menggunakan AC, hanya menggunakan kipas angin, mungkin atap bangunannya yang tinggi itu membantu mengurangi udara panas. Mesin kasir juga terlihat kuno dan tempat untuk menyajikan es krim pun antik. Pemiliknya sepertinya memang ingin mempertahankan nuansa tempo dulu bagi pengunjungnya.
 
Walau bangunan dan interiornya kuno, rasa dari es krimnya layak untuk dicicipi. Beberapa menu yang ada misalnya spaghetti ice cream, banana split, special mix, tutti frutti, chocolate sundae, cola float dan nougat. 

Dibuat secara handmade dan tidak ada bahan pengawet yang digunakan dalam pengolahan es krimnya, sehingga pada saat disajikan, tak lama air sudah menggenang di mangkok es krim, jadi harus buru-buru disantap sebelum mencair. Komposisi susunya pas, tidak membuat eneg.
Selain es krim, kita juga bisa memesan makanan lain seperti otak otak, sate, gado-gado, kue apeatau rujak juhi. Hanya makanan ini yang menjual beda. Jadi para pedagang-pedagang tadi berjualan di depan rumah es krim ini.  Kadang ada juga pengamen yang mampir melantunkan tembang-tembang tempo dulu.

Sewaktu kecil sering diajak kesini sampai sekitar SMP, bulan lalu tiba-tiba kepengan nyobain lagi setelah sekian lama. Dan woow begitu sampai sana penuh (karena hari Minggu?) dan pelayannya jutek banget, ga ramah sama sekali. Nanya menu diminta antri dulu di depan kasir dengan galaknya. Lagi liat-liat menu, disuruh cepat langsung pesan. Jadi bingung ini pembeli atau penjual yang adalah raja ya.

Walaupun es krimnya enak, tapi males juga kalau pelayanannya seperti itu. RAGUSA tak seindah kenangan...

Monday, June 4, 2012

8:47 PM 0

Pantai Sarang Elang

Garut 2010

Pantai pertama yang dikunjungi pada liburan lebaran ini adalah pantai Sayang Heulang yang terletak di desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk yang berjarak sekiar 89 km dari Kota Garut. Jaraknya memang lumayan jauh, sekitar 3.5 jam dari Garut. Sepanjang perjalanan yang jauh itu, kita disuguhi pemandangan indah,  mulai dari perkebunan teh, bukit-bukit dan jalan yang berkelok-kelok yang diapit oleh jurang-jurang yang dalam.
Jalannya lumayan sempit, hanya bisa dilalui dua mobil atau masing-masing satu untuk lajur kanan dan kiri. Disini kendaraan susah untuk menyalip baik kendaraan roda dua ataupun mobil, jarak pandang terhalangi oleh tikungan yang dihalangi oleh bukit. Harus ekstra hati-hati jika melewati jalur ini, jangan sekali-kali nekat menyalip, karena tidak akan tahu ada apa dibalik tikungan.
Ceritanya dinamakan Sayang Heulang (bahasa Sunda dari sarang elang) karena adanya elang-elang terbang landai di lautnya. Di gerbang masuknya juga terdapat monument yang di ujung atasnya bertengger patung elang.

Karena saat itu libur lebaran pengunjungnya banyak, pasirnya kecoklatan dan agak kotor. Fasilitasnya sendiri disini menurut saya tidak begitu terawat. Pantainya terbagi 2 tipe, yang berkarang di sebelah Barat dan yang landai berpasir di Timurnya. 
Banyak tumbuhan pantai disini. Lahan yang ada di lokasi ini sepertinya cukup subur sehingga memudahkan untuk ditanami kelapa dan tumbuhan merambat. Pada bagian tepi pantai ditanami tanaman pandan laut.
Ada pula orang memancing dan anak-anak kecil mengumpulkan kerang dan keong. Kontur pantai dan ketinggian ombak aman jika mau bermain air di bibir pantai. Pantai Sayang Heulang berombak tak besar dengan ketinggian stabil. 


Saturday, May 19, 2012

11:10 AM 8

5 Jam Mati Gaya

Menutup tahun 2009 kami berenam mengunjungi Bali dan Lombok selama seminggu. Awalnya hanya berencana mengunjungi Bali, tetapi karena sudah di Bali kenapa tidak sekalian menyebrang ke Lombok.

Untuk mencapai Lombok dari Bali dengan transportasi darat hanya memungkinkan dengan menggunakan kapal feri. Ada beberapa pelabuhan laut yang memberangkatkan kapal ke Lombok. Pelabuhan penumpang yang utama adalah Padang Bai yang melayani pelayanan feri secara reguler menuju Pelabuhan Lembar di Lombok dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Tiket sekali menyebrang pada tahun 2009 Rp 31.000,-/penumpang dan feri ini beroperasi 24 jam.

Kami mengambil jadwal keberangkatan jam 01.40, mau menginap di feri rencananya, jadi pagi harinya begitu sampai di Lombok bisa langsung jalan. Diperlukan waktu sekitar 2 jam-an dengan mobil dari Denpasar ke Pelabuhan Padang Bai.

Kapal ferinya cukup besar dan mampu mengangkut ratusan penumpang dan puluhan kendaraan bermotor sekaligus. Ketika sampai di atas, di dek penumpang tersedia kursi-kursi dan semacam ruangan luas terbuka untuk tidur gabung dengan penumpang-penumpang lain, kondisinya kotor dan bau. 

Ada ABK yang mendekati kami dan menawarkan kamarnya untuk istirahat seharga Rp 50.000,- Ruangannya kecil, terlalu sempit untuk kami berenam (hanya tersisa 1 kamar), agak berdebu, kurang terawat lah. Sungguh 5 jam yang terasa lama sekali tanpa melakukan apa-apa. Mau tidur ga bisa, mau ngobrol sudah tidak ada tenaga, mau keluar tidak ada pemandangan bagus selain gelap malam.
Sekitar jam 7 akhirnya feri sampai juga di Pelabuhan Lembar. Pagi itu di pelabuhan terlihat sepi, hanya ada beberapa truck besar yang sedang menanti penyeberangan selanjutnya, tujuan kami selanjutnya adalah menuju Kuta, yang berada di Lombok Selatan.  Kuta Lombok kondisinya terbalik 180 derajat dari Kuta Bali, suasananya lebih sepi, sangat cocok untuk bersantai dan menikmati kesunyian alam. Butuh waktu sekitar 1 jam berkendara dari pelabuhan Lembar ke Mataram dan kurang lebih 30 menit lagi jika diteruskan ke Senggigi kemudian Kuta.

Saturday, May 12, 2012

7:59 PM 0

Short Gateway to Cirebon : Day 1

May 2012

Kemarin saya baru saja menjelajahi Cirebon untuk pertama kalinya selama dua hari. Jarak Jakarta Cirebon juga tidak terlalu jauh, sehingga Cirebon bisa dijadikan alternatif wisata selain Bandung. Dari pengalaman selama di sana, Cirebon memang cukup menyenangkan untuk dijadikan destinasi liburan apalagi perjalanan ini dengan travel partner yang menyenangkan juga ="> :x 

Meskipun Cirebon tidak terlalu besar kotanya tapi banyak yang bisa dilakukan seperti wisata sejarah, wisata kuliner sampai ke wisata belanja batik. Kami menginap di Santika Hotel dan mereka menyediakan antar jemput dari dan ke stasiun. Saat kami tiba, driver dari Santika sudah siap menunggu kami di depan stasiun. Perjalanan dari Stasiun ke hotel sekitar 1/2 jam tanpa macet.

Sebelum berangkat saya sudah googling transportasi umum untuk menjelajah kota Cirebon ini. Untuk sewa mobil rasanya sayang karena kami hanya berdua dan tidak banyak tempat yang akan didatangi, alternatif lain naik ojek, ini juga bukan pilihan karena Cirebon terkenal panas, dan kalau saya dibawa kabur abang ojeknya gimana..hehe..Jadi pilihan jatuh ke jalan kaki dan naik angkot. Yups naik angkot...beruntung sekali saya menemukan ada yang share rute-rute angkot Cirebon di Kaskus Regional Cirebon.

Setelah check in dan istirahat sebentar kami segera keluar untuk mencari makan siang. Kami berjalan ke arah stasiun untuk mencari warung makan tapi tidak ketemu, ada sich ketemu satu warung, tapi makanan yang tersisa soto jeroan..huuuh...engga bisa kemakan itu mah sama saya. Jadinya kami naik angkot ke Empal Gentong Amarta di daerah Plered. Tarif angkotnya Rp 2.000,-/ orang. Setelah selesai makan kami menyewa becak untuk mengelilingi Kampung Batik Trusmi, si Bapak becak minta harga PP Rp 20.000,- yang menurut kami tidak terlalu mahal jadi tidak ditawar lagi.
Pilih2 batik di Kampung Batik Trusmi
Untuk makan malam kami menuju Nasi Jamblang Mang Dul di perempatan Grage dengan berjalan kaki. Lumayan jauh dari hotel tapi tidak terasa karena kami sambil mengobrol dan foto-foto sekalian olah raga. Tapi sepertinya kami kemalaman. Saat kami datang tempatnya sudah ramai, pada berdesak-desakan memesan makanannya, ada banyak menu sebenarnya tapi saat sampai giliran kami sudah hampir habis lauk-lauknya, jadi tidak selera lagi untuk makan di sini.

Tidak berhasil makan di Nasi Jamblang Mang Dul kami mencoba peruntungan di Nasi Jamblang Bu Nur. Nasi jamblang sebenarnya adalah nasi biasa, hanya nasinya dialasi daun pohon jati dengan banyak pilihan lauk seperti tahu goreng, tempe goreng, telur dadar, paru-paru kering, bergedel, otak goreng, sate usus, ikan tongkol, semur gading sapi, dan aneka pepes. 

Untuk rasa makannya tidak istimewa menurut saya, hanya nasi yang dialasi daun jati itu yang harum sekali. Sang partner cukup menikmati karena sambalnya makyus katanya (saya tidak coba sambalnya). Eh tapi dia kalau sama makanan review-nya hanya enak dan enak sekali. Harga makanannya tidak terlalu mahal, jadi yoweslah dibawa asik aja pencarian jauh si nasi jamblang ini.

Setelahnya kami kembali ke hotel dan ngobrol-ngobrol di lobby hotel sampai agak malam. Nah saya tuh duduk di sofa yang depannya ada kaca besar. Selama mengobrol itu ntah kenapa saya sering reflek memandang itu kaca (bukan pengen ngaca ya). Satu hal lagi ini adalah trip pertama saya di mana saya tidur di kamar hotel sendirian dan sepanjang malam saya tidak bisa tidur pulas karena mendengar bunyi macam-macam. Karena kamar saya di pojok dan di bawahnya area taman dan kolam renang, ya saya pikir ada yang masih wara wiri di bawah jadi berisik. Setelah kembali ke Jakarta saya cerita ke Jeng Vira, dan ternyata katanya bahwa Santika Cirebon itu memang spooky berdasarkan pengalamannya beberapa menginap di sana saat business trip. Oh my.....untung ga sampe diliatin :((

Dinding2 di Keraton ini dipenuhi dengan keramik menyerupai piring hias..

Monday, May 7, 2012

9:28 PM 3

Pantai Pasir Merica

 Lombok 2009

Pantai Aan terletak kurang lebih 30 km dari Bandara Internasional Lombok. Untuk menuju pantai ini harus melewati Pantai Kuta Lombok. Jangan heran jika di sepanjang perjalanan akan sering melihat anjing-anjing berkeliaran, tapi tenang binatang ini tidak akan menggigit atau membuat takut, anjing-anjing ini sangat disayang oleh masyarakat sana.
Jalanan berliku dan menanjak mewarnai perjalanan. Bila sudah bertemu batu-batu karang besar, bukit yang tinggi, serta tidak terdapat rumah penduduk, berarti telah tiba di Pantai Tanjung Aan. Pantai Tanjung Aan diselimuti pasir-pasir yang bersih. Warna air lautnya juga bersih.
Yang unik adalah keberadaan pasir merica di kedalaman kurang lebih dua meter pasir Pantai Tanjung Aan. Pasir merica yang berada di pantai ini tidak terkena air laut sehingga kita harus menggalinya dengan tangan untuk menemukan pasir berbutir ini. Masyarakat Lombok Tengah meyakini pasir ini bisa menyembuhkan beberapa penyakit. 
Jika tidak mau repot-repot menggalinya, kita bisa membelinya dari penduduk setempat dengan harga sekitar Rp 5000. Hanya saja kadang pengunjung bisa terganggu oleh beberapa penduduk yang menjual pasir-pasir merica dan souvenir-souvenir lainnya dengan cara agak memaksa.

Pasir merica ini hanya ada di Tanjung Aan, meskipun di wilayah Lombok Tengah ada banyak pantai. Selain itu, yang unik lainnya adalah bila melihat dari kejauhan warna air lautnya ada dua, yaitu hijau dan biru gelap. Warna hijau menandakan  airnya tidak dalam.
Di pantai ini juga terdapat sebuah bukit kecil yang dapat didaki. Di balik bukit kecil tersebut kita tidak akan lagi menemukan pasir dengan bentuk butiran merica lagi melainkan pasir putih yang sangat halus.
Suasana yang tenang menjadi pilihan untuk datang ke tempat ini. Di sekitar lokasi ini sama sekali tidak ada tempat penginapan yang berdiri, hanya hamparan padang rumput tempat warga melepas hewan ternaknya yang terlihat di jalan menuju Pantai Tanjung Aan. 
Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi ini dapat memilih tempat penginapan terjangkau yang tersedia di sekitar Pantai Kuta Lombok. Saat itu kami menginap Tastura Beach Resort. Maunya sich di Novotel, tapi mahal  :D

Tuesday, April 10, 2012

8:33 PM 4

Kuil Fathin San Bukit Betung

Bangka 2009

Kuil Fathin San berada di Bukit Betung Sungai Liat, sekitar 15 km dari Parai Beach Resort & Spa Hotel. Dari jalan raya sekitar 1 km lagi untuk sampai menemukan gapura / pintu masuk kuil. Di pintu masuknya tertulis ‘Wisata Alam Religi Mahayana Bukit Betung Desa Lubuk Sungailiat’. Tempat wisata religi ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya masuk.
Dari gapura perjalanan diawali dengan jalanan tanah yang belum di aspal hingga akhirnya bertemu dengan jalan beraspal yang terjal dan jalanannya menanjak terus. Untungnya saat itu menggunakan mobil sewaan menuju ke kuil ini, jadi tinggal duduk manis di samping Pak Supir yang sedang bekerja :p Kendaraan (mobil) bisa langsung parkir di depan kuil.

Kuil yang didominasi dengan warna merah ini berdampingan dengan sebuah batu granit besar di atasnya. Di bagian tengah ada sebuah kolam yang dihiasi dengan patung naga. Kolam ini berisi ikan-ikan  (sepertinya ikan koi) dan uang-uang logam. Uang koin dilemparkan ke kolam oleh para pengunjung dimana dipercaya melempar koin ke dalam kolam bisa mengabulkan permohonan.
Nah dari pelataran parkir kuil ini untuk mencapai puncak bukit di mana terletak Patung Dewi Kuan Yin dan Patung Budha sedang duduk menghadap Kota Sungai Liat harus melewati sekitar 300 anak tangga ;) Aroma lidi sembahyang yang dibakar sudah tercium di sepanjang anak tangga. 
Sebelum sampai di Kuil Dewi Kuan Yin, harus melewati sebuah gua yang di dalamnya terdapat patung naga dan mata air suci yang mengalir dari mulut sang naga. Mata air ini dipercaya dapat membuat awet muda bagi mereka yang membasuh wajah dan atau tubuhnya di sini. Di gua ini juga terdapat banyak sekali lilin berwarna merah yang dibakar. Dari luar terlihat gua diselimuti kabut yang berasal dari asap lilin dan garu yang dinyalakan tadi yang dapat membuat pedih mata.

Tuesday, April 3, 2012

8:17 PM 4

Bertemu Cowboy & Indian

Cisarua 2012

Wild-Wild West Cowboy Show adalah salah satu atraksi andalan dari TSI (Taman Safari Indonesia). Inti ceritanya tentang kehidupan tentram para koboi dan Indian yang buyar karena datangnya sekawanan bandit pengacau.
Suasana Kota Koboi-nya benar-benar terasa; ada mini bar, bank, gudang, penjara serta perbukitan suku Indian. Setting panggungnya dibuat dengan nuansa Kota Koboi yang mirip dengan aslinya di Texas. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke negeri Paman Sam sana cukup datang ke TSI :D
 
Pertunjukan ini memadukan unsur hitech dan komedi, atraksi beberapa jenis satwa dan tentunya para Koboi dan Indian. Cukup menarik dan menghibur. Ada kejutan-kejutan di tengah cerita seperti saat tikus hidup dilemparkan ke arah penonton, atau ketika seorang Koboi berlari membawa dinamit yang menyala ke tengah-tengah penonton lalu dinamit itu dilemparkan ke sumur dan meledak kemudian airnya membasahi penonton yang duduk di bagian depan. 

Ada pula adegan dimana para penjahat merampok bank dan menangkap petugas bank, kemudian meledakkan bangunan dengan menggunakan dinamit. Suara ledakan, semburan api serta kepulan asap yang menjulang ke langit terlihat begitu nyata. Panas dari efek ledakan terasa pula. Adegan-adegan ini layaknya seperti  sedang menonton film koboi di TV.
 
Menjelang akhir cerita ada adegan seorang bandit mati dipanah oleh Indian, ususnya pun terburai. Kemudian datang tiga ekor burung pemakan bangkai memangsa mayat si bandit. Setelah beberapa saat dua ekor burung terbang menjauh, tersisa seekor burung yang tidak mau berajak dari mayat tersebut. Sepertinya itu kejadian di luar skenario :p
 
Walaupun diclaim sebagai pertunjukan untuk segala umur, menurut saya agak kurang cocok untuk ditonton oleh anak kecil karena banyak adegan tembak-menembak, atraksi kekerasan (perkelahian) dan pertumpahan darah, belum lagi bagian dimana dinding bangunan roboh dan tampak seorang wanita yang seolah-olah sedang mandi. 
 

***
Senin s.d. Jumat pukul 14.00 WIB
Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya pukul 13.30 dan 15.30 WIB
Durasi  ± 25 menit
Free Admission

Saturday, March 17, 2012

6:42 PM 2

Pasir Putih Parai

Bangka 2009

Setelah bertahun-tahun saya berkesempatan untuk kembali menjejakkan kaki di Pulau Bangka. Memori kunjungan di Pulau ini sewaktu masih kecil sama sekali tidak berbekas X_X. Bersama dengan teman (dan temannya teman) dengan total 9 orang kami mengambil liburan tiga hari di Bangka.

Menginap di Parai Beach Resort & Spa, hotel bintang 4 yang dimiliki oleh El Jhon Group. Di sinilah Pantai Parai berada. Pantai Parai adalah pantai paling populer dan eksklusif di Provinsi Bangka Belitung. Tepatnya berlokasi di kota Sungailiat yang berjarak kurang lebih 1 jam menggunakan mobil dari airport Depati Amir Bangka. 

Karena Pantai Parai tidak dikelola oleh pemerintah tetapi ditangani secara profesional oleh pihak swasta maka ada tiket masuk yang harus dikeluarkan untuk mengunjungi pantai ini, yaitu sekitar Rp 25.000,-. Kecuali anda menginap di Parai Beach Resort & Spa maka bebas main di pantai ini sesuka hati.
sunset
Sore hari saat kami sampai hujan turun, rencana main air di pantai pun terpaksa dibatalkan karena ombak cukup tinggi. Akhirnya beralih ke kolam renang hotel. Saat ini hanya kami yang berada di kolam renang, penghuni lainnya pasti sedang asyik berteduh di kamar..hahahaa..
awan hitam
Di ujung kiri pantai, terdapat gugusan bebatuan yang ditata indah yaitu Rock Island. Pada malam hari pengunjung dapat bersantai menikmati hidangan lezat dan minuman bar di The Rock Island Grill and Bar, sambil mendengarkan deburan ombak yang menerpa bebatuan besar di sekitar restoran tersebut. Akses menuju Rock Island ini adalah melalui sebuah jembatan dengan lampu-lampu di kiri kanannya.
Pantai Parai bersih (mungkin karena private beach) dengan pasir putihnya yang menawan. Batu-batu granit berukuran besar bertebaran sepanjang pantai, sangat cocok untuk photo-photo bernarsis ria :D
Jika anda tidak narsis jangan khawatir pihak hotel menyediakan aneka permainan air seperti banana boat dan parasailing ataupun diving untuk menikmati keindahan terumbu karang. 

Hanya sayang Pantai ini sangat panas, mataharinya terik sekali...seandainya ada pantai yang sejukk pasti saya akan lebih suka ke pantai d...heehee 8->

Friday, March 9, 2012

6:02 PM 1

Oleh-oleh...Haruskah?

Menurut KBBI oleh-oleh adalah sesuatu yang dibawa dari bepergian; buah tangan. Sebagai orang Indonesia sepertinya oleh-oleh wajib hukumnya, setidaknya dari bepergian kita harus membawakan buah tangan untuk keluarga, sahabat, dan teman kantor. 

Katanya oleh-oleh ini adalah tanda bahwa kita yang sedang melakukan perjalanan tetap ingat dengan keluarga dan sahabat. Terkadang bingung juga saat memilih oleh-oleh, takut tidak cocok, jadi tidak dihargai dan akhirnya dibuang.

Biasa saya memberikan makanan atau minuman khas setempat. Kelebihannya mudah didapat dan tidak perlu memikirkan soal kecocokan karena bisa untuk siapa saja. Dari segi budget pun bisa cukup hemat karena tidak perlu membeli sesuai jumlah orang yang akan diberi (satu kantung makanan bisa dimakan ramai-ramai :D). Namun oleh-oleh jenis ini ada kendalanya juga yaitu lumayan berat jadi cukup repot membawanya dan tidak tahan lama.

Nah ada juga yang namanya titip oleh-oleh. Begitu ada yang mengetahui kita akan pergi kesuatu tempat, biasanya akan ada pesanan barang tertentu yang katanya hanya ada di tempat yang kita kunjungi itu. Hati-hati dengan orang yang menitip dibelikan sesuatu dan kemudian akan diganti katanya. Bisa terjadi barang beda warna, beda ukuran atau sedikit di luar budget, bisa-bisa uang tidak diganti...hiks...

Saya tidak pernah meminta atau menitip oleh-oleh tetapi tentu tidak menolak jika diberikan...huahaa...anyway memang lebih enak jika tidak ada yang titip-menitip jadi kita bisa menikmati liburan dengan nyaman (tidak perlu spare waktu khusus untuk mencarai barang titipan tersebut).

Saran saya tidak perlulah memaksakan diri membeli oleh-oleh jika memang tidak ada budget, kecuali sudah diberi uang tunai dahulu oleh si penitip untuk membeli sesuatu. Hukuman terberatnya ya paling digosipin sebagai orang pelit....hihiiii....eh tapi ya pelit itu beda tipis sama hemat loh...so kalau mau perjalanan yang hemat tidak perlu membawa oleh-oleh :D
oleh-oleh yang pernah saya terima

Friday, March 2, 2012

8:05 PM 2

Menikmati Sunrise di Desa Cimelati

Aktifitas lainnya yang ditawarkan oleh Pondok Maos adalah Lintas Desa, yaitu keliling kampung sekitar 3 km menyusuri perkampungan penduduk, areal persawahan, kebun dan tambak ikan. Biayanya (hasil nego) Rp 50.000 untuk 1 rombongan (seharusnya Rp 10.000/org). Dan kami request perjalanan di pagi hari, niatnya sekalian menyaksikan sunrise di tengah areal persawahan.

Beranjak dari Pondok Maos jam 05.00 kami bersama seorang guide menyusuri Desa Cimelati. Ditemani udara dingin dan kabut pagi kami memulai perjalanan menyusuri rumah penduduk sebelum sampai di areal persawahan.
 udara dingin dengan sapuan kehangatan mentari

ga ketemu petani ya
  
Kalina cape...minta gendong donk om^^
(photographs by Mr. Daru)

Thursday, March 1, 2012

7:49 PM 0

Lomba Tangkap Ikan : Pondok Maos Cimelati

Refreshing sejenak dari bombardiran tugas-tugas kantor, pada weekend di pertengahan 2010 kami menuju penginapan Pondok Maos. Pondok Maos merupakan Komplek Desa Wisata yang terletak di daerah Cimelati Cicurug Sukabumi, di kaki Gunung Salak. 

Berangkat dari Jakarta 3 mobil sedangkan Pak Boss dari Bandung. Perjalanan cukup lancar dan kami sampai sekitar tengah hari. Makan siang dulu sebelum menuju Pondok Maos.

Kami menyewa Gubuk Kantil. Lokasi Gubuk Kantil ini di belakang kawasan Pondok Maos, terpisah dari "gubuk-gubuk" lainnya. Bangunan tua, tapi lumayan lah, masih layak ditinggali :D Terdapat 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, ruang keluarga, aula, tempat parkir mobil sendiri dan kolam ikan.

Setelah unpack barang-barang bawaan, kami menuju kolam renang. Teman-teman pria berenang kemudian dilanjutkan dengan permainan pukul bantal di tengah kolam renang. Seperti sedang menonton acara 17-an gitu...hahaaa.

Setelah puas main air kami melanjutkan dengan lomba tangkap ikan. Biayanya Rp 15.000 per orang. Pihak Pondok Maos yang akan memandu lomba. Kami dapat memilih kolam lumpur atau kolam air bening untuk permainan ini. Tentu saja kami memilih air bening donk...hihiii...nanti susah cuci bajunya kalau main di kolam lumpur. Dan kami pun di bagi dalam 2 team.

Ikan-ikan hasil tangkapan ini bisa dibakar atau digoreng sesuai permintaan. Lumayan banyak juga hasil tangkapan mereka. Humm..kow mereka? Ya karena saya tidak berhasil menangkap satu ekor ikan pun. Sibuk ketawa melihat mereka rebutan ikan :p

What a fun time <:-P