Friday, August 24, 2012

12:41 AM 7

Puncak Darajat

Garut 2012

Puncak Darajat / Darajat Pass tempat wisata yang baru dibangun di tahun 2010 dengan tiket masuk Rp 15.000/orang. Air kolam yang terdapat di Darajat Pass berasal dari mata air Kawah Darajat sehingga selain panas juga mengandung belerang yang katanya baik untuk kesehatan kulit. Cukup untuk menghangatkan badan di tengah cuaca Kota Garut yang dingin. 

Jalan Raya Samarang menuju Darajat dibangun sebagai hasil kerja sama antara PT Chevron, Pertamina, PT Indonesia Power dan Pemerintah Garut. Jalan Raya Garut-Samarang-Pasirwangi-Darajat bisa ditempuh dalam satu jam saja. Melalui Jalan Samarang kita akan melewati Kampung Sampireun dan Rumah Makan Mulih ka Desa, tetapi kami tidak mampir karena kedua tempat tersebut lumayan mahal :D 

Sepanjang jalan kita disuguhi oleh petak-petak pertanian yang ditanami berbagai macam sayuran  kol, brokoli, cabe, tomat, dan tembakau. Setiap lereng perbukitan memberi warna yang beragam, sayangnya tidak melihat kebun bunga, pasti akan lebih indah dengan melihat bunga yang berwarna warni itu.
Kepulan asap putih terlihat menguasai rongga-rongga udara di salah satu sudut puncak Darajat. Panas bumi yang melimpah ini dimanfaatkan perusahaan seperti PT Chevron dengan sistem geothermalnya.
Banyak fasilitas yang disediakan Puncak Darajat, seperti kolam pemandian air panas, dengan waterboom dan ember tumpahnya. Bisa juga mencoba wisata berkuda, flaying fox, shaking bridge atau ATV track. Flaying Puncak Darajat ini katanya merupakan flaying fox terpanjang di Garut. Tempat outbound yang luas membuat banyak pilihan berwisata.

Karena saat kami datang masih dalam libur sekolah, arena bermain air seperti seluncuran dan ember tumbah sangat padat. Uniknya yang berdiri di bawah ember tumpah sebagian besar adalah ibu-ibu. 
Melihat lautan manusia itu, kami menjadi malas untuk ikut nyebur ke kolamnya, akhirnya cuma memandang gunung, makan pop mie dan camilan serta photo-photo. Tidak sampai sejam sudah keluar dari tempat ini :|
Dalam perjalanan kembali ke Kota Garut, kami singgah di Bukit Alamanda yang terletak di kaki Gunung Guntur. Bukit Alamanda Resort & Resto menyediakan enam suite bungalow yang didesain dengan nuansa tradisional tetapi tidak meniadakan berbagai fasilitas modern. Untuk rasa makanannya biasa saja :)

Monday, July 2, 2012

3:24 PM 5

Pantai Santolo

Garut 2010

Setelah dari Pantai Sayang Heulang, perjalanan lanjut ke Pantai Santolo yang berada pada 88 km sebelah selatan Kota Garut, di Kecamatan Cikelet. Pantai ini ternyata lebih indah dari Sayang Heulang (IMO). Pasirnya halus dan putih jika dibandingkan dengan pantai Sayang Heulang yang pasirnya kecoklatan dan banyak pecahan kerang. 

Sebelum memasuki gerbang Pantai Santolo terlihat tempat peluncuran roket yang merupakan bagian dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional  (LAPAN), jadi jangan kaget saat main di pantai tiba-tiba melihat roket terbang ya.
Kawasan Pantai Santolo sepertinya merupakan pantai berkumpulnya nelayan tradisional. Juga merupakan lokasi pelabuhan kapal ikan atau perahu nelayan yang ada di Pameungpeuk. Masyarakat sekitarnya menggantungkan diri sebagai nelayan, petani dan dari wisata dadakan seperti saat libur lebaran ini.
Tersedia juga sewaan perahu yang melayani wisatawan untuk menikmati deburan ombak selatan yang cukup menantang. Fasilitas yang dibutuhkan wisatawan cukup tersedia seperti losmen dan penginapan kelas menengah dengan harga per malam yang terjangkau, kios-kios cinderamata dan warung-warung sederhana beratap daun kelapa atau terpal. Wilayah pantainya belum terjamah oleh pembangunan wisata yang berlebihan.
Kita makan siang disini, banyak rumah makan lesehan, yang menjual ikan bakar atau aneka seafood lainnya. Kami tergiur oleh lobsternya yang besar-besar, akhirnya pesan 1 porsi walaupun mahal. Hidangan makanan lautnya segar dengan sajian sederhana tapi memanjakan lidah. 

Di rumah makan ini ada anak-anak yang sedang main game bola dengan serunya. Salah satu anak ada yang berteriak "congkel bujur blegug sia". Bahasa yang cukup kasar menurut teman saya yang orang Garut x_x
Di pantai ini juga kita dapat menyeberangi muara dengan perahu (ongkos perahu 2 ribu/orang). Di sisi muara ini, pantainya didominasi dengan karang-karang (pantai karang), sehingga apabila sedang surut, bisa bermain ke tengah, melewati karang-karang dan tentu saja dapat menyalurkan bakat narsis dengan berfoto ria :D
some pics taken by SN & Riman

Sunday, July 1, 2012

4:04 PM 0

Batam Menghitam

Sep 2008


Bukan tanpa alasan kalau saya membuat judul demikian, tapi fakta memang membuktikan kalau Batam itu panas. Jadi siap-siap saja menjadi hitam saat mengunjungi pulau yang bertetangga dengan Singapura ini.

Jembatan Barelang
Barelang sendiri adalah singkatan dari Batam, Rempang dan Galang, yakni nama pulau-pulau yang sudah terhubungkan oleh beberapa jembatan. Tiap jembatan sebenarnya mempunyai namanya masing-masing. Ini mengambarkan teknik yang menakjubkan dari teknologi jembatan yang menghubungkan enam pulau Batam. 

Seluruh jembatan (total panjang 6 jembatan) membentang di panjang sekitar total dua kilometer dengan terpanjang adalah jembatan pertama sekitar 642m dan akan membawa kita sekitar lima puluh menit untuk perjalanan dari jembatan pertama ke jembatan terakhir. Bagian yang menakjubkan adalah kita akan merasa seolah-olah bepergian pada satu pulau tunggal sementara sebenarnya telah melewati enam pulau yang berbeda. Kita akan menemukan beberapa pemandangan pulau di sini yang Anda dapat ditangkap di kamera Anda.

KTM Resort
Jangan lupa pula sempatkan diri berkunjung ke KTM Resort, sebuah resort yang berada di daerah Sekupang yang langsung menghadap ke Singapura. Di KTM Resort terdapat patung Dewi Kwan Im berukuran 26 m. Patung ini merupakan patung Dewi Kwan Im tertinggi di Indonesia dan sudah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI). Menurut tour guide kami KTM adalah singkatan nama dari sang pemilik.


Patung Dewi Kwan Im di KTM Resort ini telah menjadi salah satu magnet pariwisata di Batam. Keberadaan patung setinggi lebih kurang 26 meter tersebut semakin menyempurnakan keindahan KTM Resort yang menghadap langsung ke Singapura. Sebagai tempat sembahyang, di sekitar lokasi patung Dewi Kwan Im juga terdapat vihara dan klenteng. Tempat ini biasa juga ramai pengunjung saat perayaan Imlek atau tahun baru Cina.



Setelah dari KTM Resort ini kami meneruskan perjalanan ke ferry terminal untuk menyeberang ke Singapura. Perjalanan pertama saya ke luar negeri segera akan dimulai :D :D :D

Tuesday, June 12, 2012

6:18 PM 5

Tak Seindah Kenangan Lalu

Es Krim Ragusa yang berlokasi di Jalan Veteran I No. 10 adalah cafe ice cream yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Ragusa berasal dari nama keluarga Italia.
Bangunannya bergaya khas Belanda, saat memasukinya dapat merasakan kembali ke masa lalu. Kursi-kursinya terbuat dari rotan dengan model kuno dan meja yang sederhana pula. Di bagian dinding, terlihat foto-foto hitam putih yang menggambarkan bagaimana keadaan Es Krim Ragusa dahulu dan photo-photo sudut kota Jakarta jaman dulu.
Ruangannya tidak menggunakan AC, hanya menggunakan kipas angin, mungkin atap bangunannya yang tinggi itu membantu mengurangi udara panas. Mesin kasir juga terlihat kuno dan tempat untuk menyajikan es krim pun antik. Pemiliknya sepertinya memang ingin mempertahankan nuansa tempo dulu bagi pengunjungnya.
 
Walau bangunan dan interiornya kuno, rasa dari es krimnya layak untuk dicicipi. Beberapa menu yang ada misalnya spaghetti ice cream, banana split, special mix, tutti frutti, chocolate sundae, cola float dan nougat. 

Dibuat secara handmade dan tidak ada bahan pengawet yang digunakan dalam pengolahan es krimnya, sehingga pada saat disajikan, tak lama air sudah menggenang di mangkok es krim, jadi harus buru-buru disantap sebelum mencair. Komposisi susunya pas, tidak membuat eneg.
Selain es krim, kita juga bisa memesan makanan lain seperti otak otak, sate, gado-gado, kue apeatau rujak juhi. Hanya makanan ini yang menjual beda. Jadi para pedagang-pedagang tadi berjualan di depan rumah es krim ini.  Kadang ada juga pengamen yang mampir melantunkan tembang-tembang tempo dulu.

Sewaktu kecil sering diajak kesini sampai sekitar SMP, bulan lalu tiba-tiba kepengan nyobain lagi setelah sekian lama. Dan woow begitu sampai sana penuh (karena hari Minggu?) dan pelayannya jutek banget, ga ramah sama sekali. Nanya menu diminta antri dulu di depan kasir dengan galaknya. Lagi liat-liat menu, disuruh cepat langsung pesan. Jadi bingung ini pembeli atau penjual yang adalah raja ya.

Walaupun es krimnya enak, tapi males juga kalau pelayanannya seperti itu. RAGUSA tak seindah kenangan...

Monday, June 4, 2012

8:47 PM 0

Pantai Sarang Elang

Garut 2010

Pantai pertama yang dikunjungi pada liburan lebaran ini adalah pantai Sayang Heulang yang terletak di desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk yang berjarak sekiar 89 km dari Kota Garut. Jaraknya memang lumayan jauh, sekitar 3.5 jam dari Garut. Sepanjang perjalanan yang jauh itu, kita disuguhi pemandangan indah,  mulai dari perkebunan teh, bukit-bukit dan jalan yang berkelok-kelok yang diapit oleh jurang-jurang yang dalam.
Jalannya lumayan sempit, hanya bisa dilalui dua mobil atau masing-masing satu untuk lajur kanan dan kiri. Disini kendaraan susah untuk menyalip baik kendaraan roda dua ataupun mobil, jarak pandang terhalangi oleh tikungan yang dihalangi oleh bukit. Harus ekstra hati-hati jika melewati jalur ini, jangan sekali-kali nekat menyalip, karena tidak akan tahu ada apa dibalik tikungan.
Ceritanya dinamakan Sayang Heulang (bahasa Sunda dari sarang elang) karena adanya elang-elang terbang landai di lautnya. Di gerbang masuknya juga terdapat monument yang di ujung atasnya bertengger patung elang.

Karena saat itu libur lebaran pengunjungnya banyak, pasirnya kecoklatan dan agak kotor. Fasilitasnya sendiri disini menurut saya tidak begitu terawat. Pantainya terbagi 2 tipe, yang berkarang di sebelah Barat dan yang landai berpasir di Timurnya. 
Banyak tumbuhan pantai disini. Lahan yang ada di lokasi ini sepertinya cukup subur sehingga memudahkan untuk ditanami kelapa dan tumbuhan merambat. Pada bagian tepi pantai ditanami tanaman pandan laut.
Ada pula orang memancing dan anak-anak kecil mengumpulkan kerang dan keong. Kontur pantai dan ketinggian ombak aman jika mau bermain air di bibir pantai. Pantai Sayang Heulang berombak tak besar dengan ketinggian stabil. 


Saturday, May 19, 2012

11:10 AM 8

5 Jam Mati Gaya

Menutup tahun 2009 kami berenam mengunjungi Bali dan Lombok selama seminggu. Awalnya hanya berencana mengunjungi Bali, tetapi karena sudah di Bali kenapa tidak sekalian menyebrang ke Lombok.

Untuk mencapai Lombok dari Bali dengan transportasi darat hanya memungkinkan dengan menggunakan kapal feri. Ada beberapa pelabuhan laut yang memberangkatkan kapal ke Lombok. Pelabuhan penumpang yang utama adalah Padang Bai yang melayani pelayanan feri secara reguler menuju Pelabuhan Lembar di Lombok dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Tiket sekali menyebrang pada tahun 2009 Rp 31.000,-/penumpang dan feri ini beroperasi 24 jam.

Kami mengambil jadwal keberangkatan jam 01.40, mau menginap di feri rencananya, jadi pagi harinya begitu sampai di Lombok bisa langsung jalan. Diperlukan waktu sekitar 2 jam-an dengan mobil dari Denpasar ke Pelabuhan Padang Bai.

Kapal ferinya cukup besar dan mampu mengangkut ratusan penumpang dan puluhan kendaraan bermotor sekaligus. Ketika sampai di atas, di dek penumpang tersedia kursi-kursi dan semacam ruangan luas terbuka untuk tidur gabung dengan penumpang-penumpang lain, kondisinya kotor dan bau. 

Ada ABK yang mendekati kami dan menawarkan kamarnya untuk istirahat seharga Rp 50.000,- Ruangannya kecil, terlalu sempit untuk kami berenam (hanya tersisa 1 kamar), agak berdebu, kurang terawat lah. Sungguh 5 jam yang terasa lama sekali tanpa melakukan apa-apa. Mau tidur ga bisa, mau ngobrol sudah tidak ada tenaga, mau keluar tidak ada pemandangan bagus selain gelap malam.
Sekitar jam 7 akhirnya feri sampai juga di Pelabuhan Lembar. Pagi itu di pelabuhan terlihat sepi, hanya ada beberapa truck besar yang sedang menanti penyeberangan selanjutnya, tujuan kami selanjutnya adalah menuju Kuta, yang berada di Lombok Selatan.  Kuta Lombok kondisinya terbalik 180 derajat dari Kuta Bali, suasananya lebih sepi, sangat cocok untuk bersantai dan menikmati kesunyian alam. Butuh waktu sekitar 1 jam berkendara dari pelabuhan Lembar ke Mataram dan kurang lebih 30 menit lagi jika diteruskan ke Senggigi kemudian Kuta.

Saturday, May 12, 2012

7:59 PM 0

Short Gateway to Cirebon : Day 1

May 2012

Kemarin saya baru saja menjelajahi Cirebon untuk pertama kalinya selama dua hari. Jarak Jakarta Cirebon juga tidak terlalu jauh, sehingga Cirebon bisa dijadikan alternatif wisata selain Bandung. Dari pengalaman selama di sana, Cirebon memang cukup menyenangkan untuk dijadikan destinasi liburan apalagi perjalanan ini dengan travel partner yang menyenangkan juga ="> :x 

Meskipun Cirebon tidak terlalu besar kotanya tapi banyak yang bisa dilakukan seperti wisata sejarah, wisata kuliner sampai ke wisata belanja batik. Kami menginap di Santika Hotel dan mereka menyediakan antar jemput dari dan ke stasiun. Saat kami tiba, driver dari Santika sudah siap menunggu kami di depan stasiun. Perjalanan dari Stasiun ke hotel sekitar 1/2 jam tanpa macet.

Sebelum berangkat saya sudah googling transportasi umum untuk menjelajah kota Cirebon ini. Untuk sewa mobil rasanya sayang karena kami hanya berdua dan tidak banyak tempat yang akan didatangi, alternatif lain naik ojek, ini juga bukan pilihan karena Cirebon terkenal panas, dan kalau saya dibawa kabur abang ojeknya gimana..hehe..Jadi pilihan jatuh ke jalan kaki dan naik angkot. Yups naik angkot...beruntung sekali saya menemukan ada yang share rute-rute angkot Cirebon di Kaskus Regional Cirebon.

Setelah check in dan istirahat sebentar kami segera keluar untuk mencari makan siang. Kami berjalan ke arah stasiun untuk mencari warung makan tapi tidak ketemu, ada sich ketemu satu warung, tapi makanan yang tersisa soto jeroan..huuuh...engga bisa kemakan itu mah sama saya. Jadinya kami naik angkot ke Empal Gentong Amarta di daerah Plered. Tarif angkotnya Rp 2.000,-/ orang. Setelah selesai makan kami menyewa becak untuk mengelilingi Kampung Batik Trusmi, si Bapak becak minta harga PP Rp 20.000,- yang menurut kami tidak terlalu mahal jadi tidak ditawar lagi.
Pilih2 batik di Kampung Batik Trusmi
Untuk makan malam kami menuju Nasi Jamblang Mang Dul di perempatan Grage dengan berjalan kaki. Lumayan jauh dari hotel tapi tidak terasa karena kami sambil mengobrol dan foto-foto sekalian olah raga. Tapi sepertinya kami kemalaman. Saat kami datang tempatnya sudah ramai, pada berdesak-desakan memesan makanannya, ada banyak menu sebenarnya tapi saat sampai giliran kami sudah hampir habis lauk-lauknya, jadi tidak selera lagi untuk makan di sini.

Tidak berhasil makan di Nasi Jamblang Mang Dul kami mencoba peruntungan di Nasi Jamblang Bu Nur. Nasi jamblang sebenarnya adalah nasi biasa, hanya nasinya dialasi daun pohon jati dengan banyak pilihan lauk seperti tahu goreng, tempe goreng, telur dadar, paru-paru kering, bergedel, otak goreng, sate usus, ikan tongkol, semur gading sapi, dan aneka pepes. 

Untuk rasa makannya tidak istimewa menurut saya, hanya nasi yang dialasi daun jati itu yang harum sekali. Sang partner cukup menikmati karena sambalnya makyus katanya (saya tidak coba sambalnya). Eh tapi dia kalau sama makanan review-nya hanya enak dan enak sekali. Harga makanannya tidak terlalu mahal, jadi yoweslah dibawa asik aja pencarian jauh si nasi jamblang ini.

Setelahnya kami kembali ke hotel dan ngobrol-ngobrol di lobby hotel sampai agak malam. Nah saya tuh duduk di sofa yang depannya ada kaca besar. Selama mengobrol itu ntah kenapa saya sering reflek memandang itu kaca (bukan pengen ngaca ya). Satu hal lagi ini adalah trip pertama saya di mana saya tidur di kamar hotel sendirian dan sepanjang malam saya tidak bisa tidur pulas karena mendengar bunyi macam-macam. Karena kamar saya di pojok dan di bawahnya area taman dan kolam renang, ya saya pikir ada yang masih wara wiri di bawah jadi berisik. Setelah kembali ke Jakarta saya cerita ke Jeng Vira, dan ternyata katanya bahwa Santika Cirebon itu memang spooky berdasarkan pengalamannya beberapa menginap di sana saat business trip. Oh my.....untung ga sampe diliatin :((

Dinding2 di Keraton ini dipenuhi dengan keramik menyerupai piring hias..

Monday, May 7, 2012

9:28 PM 3

Pantai Pasir Merica

 Lombok 2009

Pantai Aan terletak kurang lebih 30 km dari Bandara Internasional Lombok. Untuk menuju pantai ini harus melewati Pantai Kuta Lombok. Jangan heran jika di sepanjang perjalanan akan sering melihat anjing-anjing berkeliaran, tapi tenang binatang ini tidak akan menggigit atau membuat takut, anjing-anjing ini sangat disayang oleh masyarakat sana.
Jalanan berliku dan menanjak mewarnai perjalanan. Bila sudah bertemu batu-batu karang besar, bukit yang tinggi, serta tidak terdapat rumah penduduk, berarti telah tiba di Pantai Tanjung Aan. Pantai Tanjung Aan diselimuti pasir-pasir yang bersih. Warna air lautnya juga bersih.
Yang unik adalah keberadaan pasir merica di kedalaman kurang lebih dua meter pasir Pantai Tanjung Aan. Pasir merica yang berada di pantai ini tidak terkena air laut sehingga kita harus menggalinya dengan tangan untuk menemukan pasir berbutir ini. Masyarakat Lombok Tengah meyakini pasir ini bisa menyembuhkan beberapa penyakit. 
Jika tidak mau repot-repot menggalinya, kita bisa membelinya dari penduduk setempat dengan harga sekitar Rp 5000. Hanya saja kadang pengunjung bisa terganggu oleh beberapa penduduk yang menjual pasir-pasir merica dan souvenir-souvenir lainnya dengan cara agak memaksa.

Pasir merica ini hanya ada di Tanjung Aan, meskipun di wilayah Lombok Tengah ada banyak pantai. Selain itu, yang unik lainnya adalah bila melihat dari kejauhan warna air lautnya ada dua, yaitu hijau dan biru gelap. Warna hijau menandakan  airnya tidak dalam.
Di pantai ini juga terdapat sebuah bukit kecil yang dapat didaki. Di balik bukit kecil tersebut kita tidak akan lagi menemukan pasir dengan bentuk butiran merica lagi melainkan pasir putih yang sangat halus.
Suasana yang tenang menjadi pilihan untuk datang ke tempat ini. Di sekitar lokasi ini sama sekali tidak ada tempat penginapan yang berdiri, hanya hamparan padang rumput tempat warga melepas hewan ternaknya yang terlihat di jalan menuju Pantai Tanjung Aan. 
Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi ini dapat memilih tempat penginapan terjangkau yang tersedia di sekitar Pantai Kuta Lombok. Saat itu kami menginap Tastura Beach Resort. Maunya sich di Novotel, tapi mahal  :D

Tuesday, April 10, 2012

8:33 PM 4

Kuil Fathin San Bukit Betung

Bangka 2009

Kuil Fathin San berada di Bukit Betung Sungai Liat, sekitar 15 km dari Parai Beach Resort & Spa Hotel. Dari jalan raya sekitar 1 km lagi untuk sampai menemukan gapura / pintu masuk kuil. Di pintu masuknya tertulis ‘Wisata Alam Religi Mahayana Bukit Betung Desa Lubuk Sungailiat’. Tempat wisata religi ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya masuk.
Dari gapura perjalanan diawali dengan jalanan tanah yang belum di aspal hingga akhirnya bertemu dengan jalan beraspal yang terjal dan jalanannya menanjak terus. Untungnya saat itu menggunakan mobil sewaan menuju ke kuil ini, jadi tinggal duduk manis di samping Pak Supir yang sedang bekerja :p Kendaraan (mobil) bisa langsung parkir di depan kuil.

Kuil yang didominasi dengan warna merah ini berdampingan dengan sebuah batu granit besar di atasnya. Di bagian tengah ada sebuah kolam yang dihiasi dengan patung naga. Kolam ini berisi ikan-ikan  (sepertinya ikan koi) dan uang-uang logam. Uang koin dilemparkan ke kolam oleh para pengunjung dimana dipercaya melempar koin ke dalam kolam bisa mengabulkan permohonan.
Nah dari pelataran parkir kuil ini untuk mencapai puncak bukit di mana terletak Patung Dewi Kuan Yin dan Patung Budha sedang duduk menghadap Kota Sungai Liat harus melewati sekitar 300 anak tangga ;) Aroma lidi sembahyang yang dibakar sudah tercium di sepanjang anak tangga. 
Sebelum sampai di Kuil Dewi Kuan Yin, harus melewati sebuah gua yang di dalamnya terdapat patung naga dan mata air suci yang mengalir dari mulut sang naga. Mata air ini dipercaya dapat membuat awet muda bagi mereka yang membasuh wajah dan atau tubuhnya di sini. Di gua ini juga terdapat banyak sekali lilin berwarna merah yang dibakar. Dari luar terlihat gua diselimuti kabut yang berasal dari asap lilin dan garu yang dinyalakan tadi yang dapat membuat pedih mata.

Tuesday, April 3, 2012

8:17 PM 4

Bertemu Cowboy & Indian

Cisarua 2012

Wild-Wild West Cowboy Show adalah salah satu atraksi andalan dari TSI (Taman Safari Indonesia). Inti ceritanya tentang kehidupan tentram para koboi dan Indian yang buyar karena datangnya sekawanan bandit pengacau.
Suasana Kota Koboi-nya benar-benar terasa; ada mini bar, bank, gudang, penjara serta perbukitan suku Indian. Setting panggungnya dibuat dengan nuansa Kota Koboi yang mirip dengan aslinya di Texas. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke negeri Paman Sam sana cukup datang ke TSI :D
 
Pertunjukan ini memadukan unsur hitech dan komedi, atraksi beberapa jenis satwa dan tentunya para Koboi dan Indian. Cukup menarik dan menghibur. Ada kejutan-kejutan di tengah cerita seperti saat tikus hidup dilemparkan ke arah penonton, atau ketika seorang Koboi berlari membawa dinamit yang menyala ke tengah-tengah penonton lalu dinamit itu dilemparkan ke sumur dan meledak kemudian airnya membasahi penonton yang duduk di bagian depan. 

Ada pula adegan dimana para penjahat merampok bank dan menangkap petugas bank, kemudian meledakkan bangunan dengan menggunakan dinamit. Suara ledakan, semburan api serta kepulan asap yang menjulang ke langit terlihat begitu nyata. Panas dari efek ledakan terasa pula. Adegan-adegan ini layaknya seperti  sedang menonton film koboi di TV.
 
Menjelang akhir cerita ada adegan seorang bandit mati dipanah oleh Indian, ususnya pun terburai. Kemudian datang tiga ekor burung pemakan bangkai memangsa mayat si bandit. Setelah beberapa saat dua ekor burung terbang menjauh, tersisa seekor burung yang tidak mau berajak dari mayat tersebut. Sepertinya itu kejadian di luar skenario :p
 
Walaupun diclaim sebagai pertunjukan untuk segala umur, menurut saya agak kurang cocok untuk ditonton oleh anak kecil karena banyak adegan tembak-menembak, atraksi kekerasan (perkelahian) dan pertumpahan darah, belum lagi bagian dimana dinding bangunan roboh dan tampak seorang wanita yang seolah-olah sedang mandi. 
 

***
Senin s.d. Jumat pukul 14.00 WIB
Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya pukul 13.30 dan 15.30 WIB
Durasi  ± 25 menit
Free Admission